Selasa, 11 November 2014

Ceritonyo..

Aku kangen ngomong pake bahaso palembang. Dakpapolah tulisan kali ini pake bahaso palembang. Kelamoan di Jogja, madak nian aku malah asing samo bahaso dewek. Gara-garanyo waktu aku ketemu kawan dari Palembang dan mereka ngajak ngomong pake bahaso palembang, aku malah kepayahan nak bales omongan mereka. La biaso ngomong pake bahasa Indonesia, cakmano lagi kan? :(

Jogja memang beda nian samo Palembang. Disini uong-uongyo ramah, kemano-mano kenal dak kenal pasti ado bae yang senyum samo kito. Kalo di Palembang nemu yang cak itu jarang. Makanannyo jugo beda samo makanan Palembang. Disini serba manis, padahal makanan di palembang kayo raso akan rempah-rempah.... pindang... demi apopun aku kangen makan pindang T.T

Tapi jogja samo bae panasnyo cak palembang. Iyo, panas bedengkang yang kato kito tu rasonyo cak neraka bocor yeeee. Tapi sekarang lagi musim ujan, di Palembang jugo kan? Ah, apo kabar palembang di musim ujan? Sekip pasti lagi banjir ye hehe, sungai musi meluap dak? Dulu men sekolah inget nian, men ado kawan-kawan yang dak masuk sekolah pasti diomongke budak sekip wkwkwwk.

La tigo bulan di jogja, kosakata bahaso jawo rasonyo dak nambah-nambah. Padahal target lulus kuliah pengen pacak lancar ngomong bahaso jawo. Bahasonyo saro sih, madak ngomong bae pake ado tingkatan yang alus samo kasar. Ribet kan? Men salah ngomong pacak panjang urusannyo...

Aku ngeraso uong Palembang selalu krisis identitas men ditanyo suku apo. Kito bukan cak padang yang suku minang, atau medan yang suku batak... aku dewek daktau kito suku apo. Untunglah aku ketemu jawabannyo, ternyato aku ini sebagai uong palembang asli itu campuran suku melayu dengen ado keturunan cinonyo dikit. Daktau jugo, tapi itulah ngapo uong palembang putih-putih. Meski sebenernyo aku lebih sering dikiro uong sunda. Biasonyo aku langsuuuung bilang, "Enggaaaaaaak.... aku orang Palembang". Daktau rasonyo sedih cakitu, dak dikenali identitasnyo.

Aku ngeraso tulisan ini aneh. Kamu cakmanolah yang baconyo? Iyo aneh... yosudah men dak setuju dak usah dibaco, tapi aku masih nak cerito disini. Hmm apo yeee? Ohiyo, dak di palembang, dak di jogja uong-uong masih bae bilang aku cak budak kecik.. padahal aku kan sudah berusaha bersikap dewasa sebagaimana mestinyo. Tapi aku sering bae buat uong ketawo dan mereka ngomong, "Ya Allah polos nian gioooo". Tapi aku baru sadar sih, ternyata aku memang terlalu polos, madak aku dak tau apo itu Pasar Kembang. Aku kiro itu namo daerah, pasar tempat uong jualan kembang.... dan setelah aku tau apo itu.... AAAAAAAAA AKU SHOCK!! Pantes bae aku diketawoi kawan-kawan pas ngajak mereka ke sarkem buat beli kembang :((

Terus cerito apolagi yeee? Ohh iyoo, aku seneng disini ketemu juga kawan-kawan baru. Aku lanjut ngelingker lagi, dan itu yang terpenting... Alhamdulillah Allah mudahke dan kumpulke dengan lingkungan baik, padahal kan ye disini tu heterogen nian. Yang pake cadar tu biaso, kawan sekelass aku bae ado. Cewek merokok pun ado, sekelas pulok samo akuu. Pokoknyo rasonyo men kamu kesini kamu akan sadar bahwa segalo jenis manusio ado galo disini.

Oh iyo, terus aku ngeraso cak norak nian di jogja nih. Biasolah di tempat kito kan katek gunung samo laut, cuma ado sungai bae.. kalo ke pantai kito harus ke lampung dulu atau ke bangka atau ke bengkulu.. tapi disini aku berapo kali sudah diajak ke pantai rame-rame samo keluarga muslim psikologi :3 ke gunung jugo, meski baru ngelanggeran tapi exciited, maklumlah uong Palembnag xD

Ahh, aku mulai capek. Maghrib ini nak pegi ke fakultas pulok, dem dulu yeee. Maaf tulisannyo jelek :))


(Jembatan Ampera dan Sungai Musi di waktu malam)


- Giovanny Putri Andini
Yogyakarta, 11 November 2014

Senin, 15 September 2014

Ada

September 2010

"Kamu kemana-mana selalu sendirian, ya? Kamu memang suka sendirian?"

"Kenapa berpikiran seperti itu?"

"Kenapa kamu memilih pergi ke Jogja? Tempat yang amat jauh dari rumah, tanpa keluarga yang dikenal, kamu memang suka sendirian?"

"Aku tidak suka...."

"Apa?"

"Aku tidak suka kamu, si sok tau yang suka ikut campur urusan orang."

***
Januari 2011

"Kamu benci keramaian ya?"

"Aku benci kamu."

"Kenapa?"

"Kau tahu, pertanyaan itu yang malah membuatku semakin membencimu."

"Apa kau bahagia?

"Apa?"

"Apa dengan membenciku itu bisa membuatmu bahagia? Bernafas lega, misalnya?"

"Kamu kenapa sih?"

"Karena sungguh, jika membenciku itu bisa membuatmu bahagia maka bencilah aku sesuka yang kau mau."

"Maumu apa sih? Menyebalkan! Satu-satunya yang membuatku menyesal pergi ke Jogja adalah karena aku harus bertemu kamu!"

***

Maret 2012

"Kamu gila."

"Sudahlah, aku lelah meladenimu. Kau membuat hidupku tidak pernah merasa tenang sejak awal masa perkuliahanku. Menghancurkan mimpi dan harapanku ketika memasuki dunia mahasiswa yang diceritakan banyak orang di kotaku dulu,"

"Kamu memang gila."

"Ah, tapi aku ingin berterima kasih kepadamu. Kau satu-satunya yang menyadari keberadaanku ketika yang lain mengabaikan dan sibuk dengan urusan masing-masing. Meskipun menganggu, kau satu-satunya yang mau mengajakku berbicara."

"Tapi kau gila."

"GILA? APA MAKSUDMU DENGAN GILA? SATU-SATUNYA KEGILAAN DALAM HIDUPKU ADALAH BERSABAR UNTUK SEKIAN TAHUN MENANGGAPI PERTANYAANMU YANG MENGANGGUKU."

"Disitu letak kegilaanmu. Aku tidak pernah benar-benar ada sejak awal."

"Apa maksudmu?"

"Sekarang kau benar-benar sudah gila. Aku harus segera pergi."

"Tunggu! Hey! Kembali! Jangan tinggalkan aku! KUMOHON KEMBALI! K-E-M-B-A-L-I"


***

Desember 2013

Wanita itu duduk meringkuk di ujung kamar kecilnya, mengenggam dasi berwarna hitam yang tadi dibelinya sepulang kuliah. Dililitkan dasi itu di lehernya, kemudian dicekikan dengan erat. Setetes air mata jatuh, wanita itu terus bergumam seperti kaset rusak berulang-ulang, "mati... mati.. mati..."




- Giovanny Putri Andini, sebuah fiksi absurd tentang skizofrenia.
Kadang-kadang saya ingin mengangkat tema ini hahaha >.<
Yogyakarta 15 September 2014

Minggu, 14 September 2014

Bangun!

Halo, selamat terbangun dari dunia mimpi! Selamat menjalani hidup yang sebenar-benarnya. Jauh-jauh hari, kamu sudah menangis dan berjuang untuk bisa sampai ke tempat ini. Sekarang, bangun! Angkat kepalamu! Buka matamu lebar-lebar! Kamu bukan bocah kemarin sore yang menangis karena terjatuh di atas aspal dengan lutut berdarah! Kamu bukan anak kemarin sore yang ngambek karena tidak dibelikan es-krim! Bukan, kamu Giovanny Putri Andini. Wanita tangguh yang tidak datang jauh-jauh kesini, hanya untuk menjadi orang yang kalah.

Selamat bertanggung jawab untuk mimpi-mimpi yang telah kamu susun. Setahun yang lalu, kamu menghamba, menangis, mengiba di atas sejadahmu agar Dia meridhoi kamu bisa berada di tempat ini. Sekarang kamu telah mendapatkan kesempatan itu. Bersyukurlah! Dan cara paling baik untuk mensyukuri nikmat-Nya adalah dengan usaha berjuang keras dan menjalani takdirmu ini dengan sebaik-baiknya. Bersyukurlah, karena Dia Yang Tak Pernah Ingkar, telah berjanji akan menambahkan nikmat bagi orang-orang yang bersyukur.

Selamat belajar di kampus peradaban! Selamat berproses dan bedinamika di kota orang! Selamat bermanfaat bagi orang banyak! Selamat kembali mencoret tinta emas di dalam sejarah kehidupan. Ini bukan akhir dari segalanya, ini awal kembali merangkai mimpi. Jangan ngeluh! Jangan ngeluh! Jangan ngeluh!

Wake up! Your only limit is YOU!



- Giovanny Putri Andini, sebuah tulisan untuk memotivasi diri sendiri.
Yogyakarta, 15 September 2014

Kamis, 21 Agustus 2014

Luka?

Bagaimana mungkin seseorang merasa terluka, bahkan ketika tidak dilukai? Bagaimana mungkin seseorang bisa merasa sakit, bahkan ketika tidak berdarah? Atau jangan-jangan kita yang melukai, tanpa menyadari? Siapa yang terluka, siapa yang melukai? Manusia memang sering kali terlalu bodoh dalam memahami orang lain. Manusia memang menjadi paling menyebalkan saat sudah menjadi amat sok tau.

Katanya kecerdasan manusia dibagi dalam tiga hal; intelektual, iman dan emosi. Adakah yang bisa menguasai ketiganya? Di antara semuanya, boleh aku simpulkan yang paling sulit dimiliki adalah kecerdasan emosi? Boleh aku berpendapat, mereka yang beriman pun terkadang tidak serta merta mempunyai kecerdasan dalam memahami orang lain?

Ya, sebutlah aku adalah orang paling tidak mempunyai kecerdasan emosi; kecerdasan dalam memahami orang lain. Mungkin aku sudah memberimu racun, saat kukira itu adalah segelas madu. Mungkin kukira kau akan terssenyum senang, saat kau diam-diam kesakitan dan sekarat disana. Mungkin aku sudah mencabik-cabik kepalamu dengan pisau, saat kukira aku sedang menyisir rambut panjang dan indahmu dengan lembut. Dan banyak lagi kemungkinan-kemungkinan yang bermunculan dikepalaku. Yang intinya cuma bermuara pada satu; mengapa kamu jadi begitu?

Mencoba tak terlihat, hanya membuatku akan semakin mencarimu. Jangan kira aku tak pernah peduli. Betapapun orang bilang aku adalah yang paling cuek sedunia, untukmu pengecualian. Aku juga tidak tau mengapa. Sudah kehendak Tuhan mungkin, karena aku sebenarnya juga tidak menginginkannya.

Kau benar untuk segalanya. Aku mungkin bukan teman yang baik. Aku bersandiwara untuk terlihat dewasa? Mungkin kau tidak salah, meski aku juga tidak mengetahuinya. Ketika ospek kemarin, dosen di psikologi menjelasakan; ada ruang dalam diri kita yang diketahui orang lain tanpa kita ketahui. Kau wanita paling peka yang pernah aku kenal, mungkin memang menyadarinya.

Ma'af, cuma itu yang bisa kukatakan meski tau semua tak akan selesai dengan kata maaf. Kau boleh pergi lalu membenciku. Biar jarak dan waktu yang mendewasakan kemudian menyembuhkan luka kita.


Teruntuk si cantik, yang kukira akan menjadi sahabat selamanya,
aku masih menyebut namamu dalam rabhitah ku.

- Giovanny Putri Andini
Yogyakarta, 22 Agustus 2014
4:44 AM