Senin, 08 Juni 2015

Absurd #1

Ada banyak sekali perubahan dalam hidupmu, terlebih mungkin setelah kau pergi merantau meninggalkan rumah. Teman-temanmu yang dulu, rasanya tak pernah sama lagi. Atau mungkin dirimulah yang lantas merasa telah berbeda. Kau duduk dengan mereka, menyimak tiap obrolan mereka, namun tidak benar-benar mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Dan yang lebih menyebalkan, semua lelucon yang mereka lontarkan rasanya tak lagi lucu.

Mungkin karena itu kemudian, aku lebih menghindari pertemuan dengan beberapa orang. Ketimbang saling berbagi kisah seru, biasanya mereka malah lebih suka menggosipkan teman-teman lama. Kisah yang kadang-kadang, membuatku sendiri merasa tak nyaman. Dan di saat-saat seperti ini, biasanya aku akan mengingat sahabat-sahabat dan teman baikku di jogja.

Pejuang SC PMB JS, Syifa, Arif, Ziddan, Pras yang sudah berbulan-bulan ini membuatku bosan bertemu dengan mereka di rapat pmb haha. Atau squad forga JS 14, uzi, 'ashfa, gian, abi, syahril. Sahabat sampai surga KMP, anza, inayah, nasrah, rahmi, muti, una, ammar, pras, syeh, mas faris, mas ojan, mba dola, mba yutika, dan banyak lagi yang selalu gangguin saya di sekre ������. Bahkan temen-temen soshum yg kocak gila, orang-orang galau yg bahasannya nikah melulu #SalingMenguatkan fakhrul, andri, anggres, caca, dan banyak banget. Betapa ternyata tanpa mereka sadari, hidupku sudah cukup banyak diwarnai oleh mereka.

Dan mengingat semester baru ini aku akan masuk asrama di DS, aku juga tidak tau.. Kejutan apa yang menanti di depan nanti. Aaaaaaah, kenapa tulisan ini absurd banget ya. Entahlah, pokoknya aku sudah rindu dengan jogja ��


Palembang, 19 Juli 2015.
3:51 PM



Senin, 06 April 2015

Kunang-kunang dan Debu

Kunang-kunang itu meredup, kehilangan cahayanya. Hanya menunggu waktu saja, sebentar lagi mungkin dia akan mati. Kunang-kunang memang hanya ada ketika gulita, kala siang datang dia hilang. Terlupakan.

Debu itu berterbangan, melewati tiap partikel udara, menempel di berbagai tempat, berkelana melihat dunia. Namun saat air atau mungkin sabun mengenainya, dia musnah. Lenyap begitu saja dengan magis. Kehadirannya memang tidak pernah diharapkan apalagi dikenang. Keberadaannya ada hanya untuk kemudian dienyahkan.

Aku tidak tahu, apakah aku adalah kunang-kunang yang merasa bosan di tempat gelap. Atau sekedar debu yang tinggal menunggu waktu akan hilang. Yang aku tahu dari keduanya adalah; aku sangat kecil dan tak berdaya. Aku rapuh dan lemah. Berkalipun aku bilang kuat, aku tidak bisa membohongi fakta bahwa diriku merasa sangat menyedihkan.

Tuhan, ampuni hamba-Mu ini yang tidak bisa bersyukur. Maafkan aku yang merasa sedih, untuk hal yang aku sendiri tidak mengerti. Rasanya hanya hampa, ada yang menganga kosong di hati dan membuat pilu. Tidak peduli seberapa sibuknya diriku, kelelahan-kelelahan ini tidak cukup membantu lagi seperti dulu.


Ketika sujud tak kunjung menjelma syahdu, maka aku hanya bisa tergugu.


Mungkin aku memang sudah terlalu jauh.


(c) Giovanny Putri Andini
Perpustakaan UGM, 6 April 2015
3.06 PM

Sabtu, 17 Januari 2015

Kenangan

Enam bulan ternyata cukup lama untuk mengubah banyak hal. Gedung sekolah yang semakin besar dengan banyak renovasi yang membuatnya tampak semakin megah. Seragam-seragam baru yang dikenakan para generasi unyu -yang saking banyaknya tidak bisa aku ingat-, dan kucing-kucing yang selalu membuat ramai musholla yang kini entah hilang kemana. Detik pertama aku merasa asing. Merasa seperti seorang traveler yang mendatangi tempat baru. Bagai seorang astronot yang terdampar di planet tak dikenali. Antara takjub dan tidak percaya, lalu mencoba menerima segala perubahan ini. Dan lucunya aku malah ingin sekolahku yang dulu kembali.

Enam bulan ternyata cukup lama untuk terus memupuk rindu yang amat dalam. Kerinduan yang rasanya tidak akan habis dengan hanya mencoba untuk duduk sebentar di mushollah, atau berjalan-jalan mengelilingi sekolah. Kerinduan yang rasanya jika diceritakan akan menjadi cerita panjang yang tak pernah sudah.

Bagaimana bisa tiga tahun terakhir justru menjadi kenangan paling indah yang akan kau ingat selamanya dalam hidupmu? Betapa ingin kau pergi ke masa lalu, hanya untuk duduk diam lalu tersenyum menonton segala pola tingkah lucu, konyol, manis, memalukan, menyedihkan bahkan menyebalkan yang pernah kau lakukan di dalam hidupmu. Lalu menyadari bahwa itu adalah hal paling mustahil yang pernah terlintas di otakmu adalah hal yang paling menyedihkan yang kau tahu.

Beri aku bubuk peri, kantong doraemon, mantra, sihir magis, atau apapun dalam buku-buku dongeng itu yang bisa membawaku kembali ke masa itu. Masa dimana aku mengenakan seragam putih abu-abu dengan rompi kotak-kotak yang seperti taplak meja. Berlari-lari sepanjang lorong sekolah, melompat menuruni anak tangga, duduk di pinggir mushollah, melingkar di lapangan sekolah, memejamkan mata merasakan angin yang berhembus di bawah pohon rindang besar atau bahkan tidur-tiduran di UKS untuk sesekali menghindari mapel yang tidak aku sukai atau memang karena sekedar ngantuk dan ingin tidur.

Atau mungkin aku ingin kembali ke saat itu. Saat dimana pertama kali aku merasakan jatuh cinta diam-diam, pada sosok yang hanya bisa aku pandangi punggungnya dari belakang. Saat dimana aku pertama kali belajar, bahwa cinta sejati hanya untuk mereka yang bersabar. Saat dimana untuk pertama kalinya kebiasaan-kebiasaan baru muncul sejak mengenalnya: tetiba lupa bicara saat di hadapnya, lupa gravitasi daat di dekatnya, atau lupa malam saat mengenang senyumnya.

Benarlah kalimat orang dulu, bahwa masa-masa paling indah adalah masa ketika kau memakai seragam putih abu-abu. Bukan karena aku tidak bahagia dengan kuliahku. Aku justru amat merasa bersyukur dengan tempat baruku belajar dan berproses. Hanya saja aku selalu percaya, jika hidup adalah kumpulan dari rangkaian sebuah puzzle maka masa SMA adalah bagian dari puzzle terpenting dalam hidupku. Yang mana tanpa masa itu, tentu tidak akan pernah ada aku yang sekarang.


Apa yang hilang, larut bersama kenangan lalu pergi bersama hujan yang jatuh membasahi hati?

Untuk beberapa kebahagian yang memang tidak bisa terulang.

Untuk rindu yang tak sudah-sudah.

Untuk kita yang mengagumi kenangan-kenangan.

Ikhlaskanlah..

Walau sungguh demi hujan dan malam, melupakan... aku tak akan pernah sanggup.




- Giovanny Putri Andini
Palembang, 17 Januari 2014

Minggu, 14 Desember 2014

Ini Curhat (Part 2)

Sabtu, senja, gerimis, mereka.

Aku agak mempercepat langkah kakiku yang menciptakan cipratan kecil dari genangan air yang kuinjak. Langkahku yang cukup besar dan cepat mendahului gravitasi air yang jatuh dari langit. Nafasku agak memburu. Katanya penghitungan final sudah selesai. Di sisiku mbak Syari juga ikut menyamakan langkah, berdua kami merapat di bawah jaket hitamnya agar tidak basah terguyur hujan. Meski sebenernya percuma, karena kaos kaki kami sudah benar-benar basah kuyup oleh genangan-genangan air di tanah.

Sejak kemarin jantungku benar-benar dipaksa untuk memompa darah lebih cepat. Dua hari yang lalu tepatnya, setelah -Alhamdulillah- menyelesaikan penghitungan suara Pemira Fakultas dan itu artinya tugas menjadi panitia KPRM selesai, detik-detik penghitungan suara Presma membuatku menjadi semakin gelisah dan deg-degan. Pasalnya, sudah banyak yang aku lakukan dan korbankan untuk pemilwa ini. Dan aku merasa, dengan amanah #AhSudahlah, aku bertanggung jawab atas kemenangan calon nomor enam itu.

"Gimana? Gimana?" Aku bertanya sedikit cepat, setelah  menepi dan mencari tempat yang tidak basah untuk duduk. Kami berteduh di teras sebuah rumah (atau mungkin gudang) kosong di samping B-19 tempat penghitungan suara.

Malam sebelumnya sebuah kecemasan benar-benar menghantui tidurku, karena hasil penghitungan sementara Mas Satria tertinggal 200-an suara setelah penghitungan di beberapa TPS. Penghitungan oleh KPUM terus berlanjut sampai jam 4 dini hari. Dan setelah cuma mampu tidur beberapa jam, lalu terbangun jam 3.30, mengambil wudhu sholat dan tillawah sebentar sampai subuh, baru aku beranikan untuk membuka hp dan melihat live report dari grup. Ini yang membuatku terharu, ikhwan-ikhwan pejuang LSP dari Partai Bunderan tidak tidur demi mengawal suara dan mencatat tiap turus suara yang masuk satu-persatu. Bergantian.

Dan hasilnya ternyata berbalik, meski selisih tidak mencapai 100 tapi suara mas Satria sudah memimpin lagi. Ada girang dan bahagia yang aku rasakan. Maka cepat-cepat aku mengikuti instruksi dari mbak Indri di grup. Penghitungan suara akan dimulai lagi dari jam 7 pagi, giliran akhwat-akhwat segera merapat ke B-19 untuk menjadi saksi Bunderan untuk penghitungan suara.

Maka disinilah aku senja ini, ditemani gerimis melihat wajah-wajah kelelahan kakak-kakak yang sudah mengorbankan banyak hal untuk pemilwa ini. Bertanya lagi dengan polosnya setelah kembali sholat Ashar bersama mbak syari di maskam, dan sejak pagi menggembel dengan menggelar bahilo untuk diduduki di pinggir jalan bersama, bergantian membuat shift bersama kakak-kakak ini untuk masuk ke B-19 mengawal penghitungan suara. "Gimana hasilnya? Udah keluar lagi yang terbaru?"

Tepat setelah aku bertanya, mas Arfan dan mas Ridwan datang dengan sedikit tergopoh ke tempat kami semua berteduh. "Udah fix! Udah selesai!" kata mas Ridwan dengan agak cepat. Kepala kami semua langsung tertuju kepada mereka. Menunggu kira-kira kejutan apa yang akan keluar dari kalimatnya setelah ini. "Satria menang dengan suara 4564, fakhry 4290!" Duniaku menjadi agak sedikit terang. Mbak Indri menangis, bahkan kulirik mas satria juga gemetar menghapus air mata di pelupuk matanya. Semuanya terharu. Aku sendiri, satu-satunya yang paling kecil disini sebenarnya tidak tahan melihat drama yang entah berakhir atau malah menjadi awal yang begitu menyentuh.


***

Malam, laptop, komsat, mereka.

Besok aku masih ada kuliah pagi, tapi aku masih disini meski adzan isya sudah sejak tadi berakhir. Berkutat dengan laptop dan mencoba mencari dan menuangkan inspirasi dalam kultwit yang kusimpan di draft untuk nanti ditwit di akun #AhSudahlah. 

Komsat benar-benar ramai dan sibuk malam ini, pasalnya hari ini pengumpulan terakhir berkas untuk casenat partai dan casenat independen. Lembaran-lembaran kertas, map, membuat komsat yang kecilnya menjadi lebih sempit. Aku yang kehilangan inspirasi dan semakin suntuk melihat kesibukkan orang-orang disini membuka hp dan melihat-lihat grup yang tidak pernah sunyi dengan celoteh anggota-anggotanya. Aku membuka grup FKT Psikologi 2014, salah seorang anggota di grup dibully dan mereka sedang seru-serunya bercanda dan tertawa disana.

Jemariku cepat menari mengirim beberapa kalimat ke grup itu, "Capek. Masih di komsat. Aku mau pulang, tapi belum boleh pulang kalo kultwitnya belum selesai." Aku menghela nafas, melihat sekelilingku. Lalu kembali mengirim emot kelelahan dan emot menangis. Menunggu respon dari mereka.

"Biar lelah, asal Lillah!" kata Rahmi. "Maleeem banget Giooo. Hati-hati ya, disana kamu bukan akhwat sendirian kan?" tanya yang lain. Aku mengangguk pelan. Kembali mengetik bahwa disini masih rame akhwat, pulang nanti aku juga insyaAllah ga sendirian. Aku diam sebentar sebelum akhirnya sebuah pesan masuk lagi dari anggota grup yang lain. Mereka kembali membuka obrolan baru dan tertawa-tawa bahagia. Melupakan aku sendirian di komsat.

"Gio, udah selesai dek?" tanya mbak Ratri yang membuatku segera mengalihkan pandangan dari hp. Aku menggeleng. "Jangan lama-lama gio. Nanti kamu pulangnya kemaleman." Mas Budi menambahkan. Aku mengangguk cepat-cepat dan segera memfokuskan ke laptop. Iya, harusnya aku segera menyelesaikan ini bukan malah bersedih-sedihan di grup.

***

Siang. Kampus. Poster.

Setengah berbisik, Pras memanggilku untuk sedkit mendekat kepadanya. Aku berjalan pelan. Dikeluarkannya bergulung-gulung poster dengan agak besar dari dalam tasnya. "Dapet dari mana? Komsat?" bisikku setengah berteriak. Pras mengangguk. "Ditempel ya gio, kamu cari spot-spotnya," lanjut Pras tanpa rasa bersalah. "Kagak mauuu! Enak aja main perintah orang. Aku kan cewek, kamu tegaa banget sih!" kali ini suaraku agak keras.

Tapi Pras masih bergeming di tempatnya, "kan kamu korfak, aku cuma bantuin ngambil poster. Hari ini pokoknya poster harus udah di tempel di Psikologi. Yaudah kita bagi aja posternya, yang ini kamu tempel sendiri ya." Pras melanjutkan dengan pelan. Aku terima poster itu dengan bingung dan perasaan yang teraduk-aduk.

Aku mengirim pesan, kepada salah satu kakak tingkat. Masih tidak ada respon. Dengan agak malas aku berjalan ke kantin. Mahasiswa baru, masih bocil sendirian diliatin orang-orang nempel poster capresma di kantin. Antara kesal dan acuh. Entah stigma negatif apa yang ada di pikiran orang-orang. Hari ini aku putuskan untuk keluar dari persembunyian di balik kata "amniyah". Terserah penilaian orang apa. Berapa hari sebelumnya juga aku sudah terang-terangan meminjam dengan mengumpulkan KTM teman-teman angkatan, bahkan kakak tingkat di fakultasku. Dengan jujur dan apa adanya aku bilang aku ingin membantu salah satu calon biar bisa maju menjadi capresma.

"Kamu ikut partai mahasiswa, dek?" seorang kakak tingkat mendekatiku yang sedang menempel poster. Aku menggeleng, agak terbatuk karena asap rokok yang dikepulkannya terhirup. "Enggak, aku bantuin aja. Aku kenal dengan capresmanya, mas Satria," aku menjelaskan. Orang itu hanya manggut-manggut tidak peduli. Aku melirik sekelilingku, dan merasa sendirian. Kemana orang-orang fakultas yang membuat berada di posisi ini? Sendirian dan merasa aneh. Lagi-lagi hari ini aku jadi ingin menangis.

***

Laundry, kampus, terik.

Aku baru keluar kelas saat mendapati sebuah panggilan masuk. Dari mas Satria, aku mengerutkan kening sebelum mengangkatnya. "Assalamu'alaykum, Gio ada kuliah, dek?" tanya mas Satria cepat. "Wa'alaykumussalam, barusan selesai. Kenapa?" agak heran aku ikut bertanya. Seingatku hari ini dan sekarang sedang jadwal Tour De Faculty-nya.

"Ke komsat sekarang, ambil baju mas di ruang tamu masukin ke laundry yang sehari jadi bisa?"

"Hah? Sekarang banget?"

"Iya, kan besok mau dipake buat TDF di Mipa. Gak ada baju lagi nih. Tolong ya, bisa kan?"

Aku menimbang sebentar sebelum mengiyakan dan panggilan langsung terputus. Matahari sedang terik saat itu. Fakultas Psikologi dan Komsat yang berada di jakal km 5 itu sebenarnya cukup jauh menurutku. Kenapa aku yang disuruh? Gara-gara aku yang paling kecil dan paling enak diminta tolong? Batinku kemballi menggerutu saat melangkahkan kaki untuk mengambil motor yang terparkir rapi di lembah.

Aku duduk di atas motor sebelum melirik ke atas. Cuaca memang sedang menggila, kadang hujan lebat dan kadang bisa panas begitu ekstrim. Siapa tahu, mungkin sebentar lagi gantian aku yang menggila.

***

Debat. Rindu. Pulang.

"Giooo.." Mbak Indri memanggilku tepat ketika aku keluar dari musholla hukum. Hari ini sedang ramai debat capresma di Fakultas Hukum. Aku tersenyum, mendekat dan menyalami mbak Indri. "Itu ada ibunya mas Satria loh," kata mbak Indri yang menunjuk sesosok wanita tua yang duduk di depan mushollah memakai sepatu bersama mbak Ratri. Aku segera berlari mendekati wanita tersebut, mengangguk sopan dan sungkem mencium tangannya. Wanita ini adalah sosok yang paling sering diceritakan oleh mas Satria, akhirnya aku bisa bertemu dengannya.

"Waaah, siapa ya?" tanya wanita tersebut dengan senyum.

"Saya Gio bu, Psikologi 2014, yang bantuin mas Satria buat nyebar-nyebar pin, leaflet profil mas satria, nempelin posternya hehehe," aku tertawa kecil.

"Waaaah, terima kasih ya nak sudah membantu banyak," wanita tersebut tersenyum. Jika boleh berlebihan, maka akan aku katakan bahwa aku tak pernah melihat senyum yang lebih tulus dari pada itu.

Ya, aku tau mas Satria sedang sakit namun memaksakan diri untuk datang berdebat. Ibunya pun memaksakan diri datang dari purworejo ke Jogja mendengar kabar sakit itu. Diam-diam, ada yang pilu di hatiku. Aku rindu ibuku di Palembang. Aku juga sekarang sedang sakit. Aku ingin pulang
 
 
***

Kembali lagi. Senja. Hujan. Mereka.

Aku kini ikut mengerjap-ngerjapkan mata, menahan bulir air mata bisa tumpah. Sekarang mengambil posisi duduk di samping mbak Indri. Mbak Indri, "Ya Allah, Gioo... tahun depan kamu harus lebih keren!!" aku hanya diam saja, tak tahu harus membalas apa. Bagaimana menjelaskan suasana yang lebih mengharu biru dan sesyahdu itu?

Tiba-tiba secara dramatis semua kenangan dua bulan bersama mereka berputar dengan sendirinya. Rapat-rapat di FKG, Balairung, Komsat, mengumpulkan KTM, menempel poster, launching Bersama UGM, blusukan dari pagi sampai sore SOSHUM, MIPA, GEO, masuk ruang-ruang kuliah FAKES untuk bagi-bagi leafloat dan amunisi kampanye saat mas Satria sedang mensosialisasikan dan memperkenalkan dirinya. Sampe harus tahan telinga saat temen-temen angkatan di forsalamm bilang, "Gio sekali-sekali merakyat dong ikut acara angkatan, gaulnya sama petinggi lembaga dan angkatan tua terus...." Padahal mereka juga tidak pernah tau, aku sudah seperti kerja rodi tiada henti disini.

Tapi sungguh, berjuang bersama mereka bukan sesuatu yang perlu disesali. Aku temukan keluarga, aku temukan pengalaman, aku temukan cinta dari perjuangan yang melelahkan ini. Kemarin aku pernah menangis, bertanya "kenapa harus aku?" Dan Allah memang memilihku untuk bisa belajar lebih cepat dari orang-orang kebanyakan. Keluguanku terakselerasi, dan pengalaman-pengalaman ini membuatku belajar lebih cepat dan menemukan banyak prespektif dan pandangan baru. Sesuatu yang tidak akan kudapatkan di ruang-ruang kuliah dan slide-slide yang dipaparkan dosen. Pengalaman selalu memberi banyak hal untuk mendewasakan dan meningkatkan kapasitas diri. Dan kesempatan adalah sesuatu yang tidak ternilai harganya.

Mas Satria menangkapku yang memandanginya. Aku kikuk. "Mas Satria!!! Semangaaaaat!! Jadi timses ternyata seru yaaaa hahaha" kataku mengucek-ngucek mata. Mas Satria hanya balas tertawa kecil.

***

" Gio kamu harus sering-sering disuksi sama kakak-kakak ini, sering-sering main sama temenmu. Kamu keren loh, dua tahun lagi hasil dari akselerasi kamu ini baru akan keliatan.."

"Aku mah apa? Cuma remahan sterofom, ditiup juga hilang..."

"Hahaha dasar bocil, tapi jangan polos dan lugu-lugu amat ya, nduk.."

Dan aku tahu, ibarat perjalanan kapalku baru saja mengangkat jaring dan bergerak meninggalkan pelabuhan. Ini bahkan belum setengah jalan, belum bertemu ombak, digulung badai dan semua rintangan besar yang akan membuat seorang pelaut menjadi bertambah tangguh jika dia mampu bertahan. Semua hal-hal menyebalkan dan mengharukan diatas belum apa-apa. Tarik nafas panjang-panjang, dan buka mata lebar-lebar. Perjalanan sesungguhnya, baru akan dimulai.

Jogja, 14 Desember 2014
- Giovanny Putri Andini, sebuah curhat.
11:05 PM