Senin, 15 September 2014

Ada

September 2010

"Kamu kemana-mana selalu sendirian, ya? Kamu memang suka sendirian?"

"Kenapa berpikiran seperti itu?"

"Kenapa kamu memilih pergi ke Jogja? Tempat yang amat jauh dari rumah, tanpa keluarga yang dikenal, kamu memang suka sendirian?"

"Aku tidak suka...."

"Apa?"

"Aku tidak suka kamu, si sok tau yang suka ikut campur urusan orang."

***
Januari 2011

"Kamu benci keramaian ya?"

"Aku benci kamu."

"Kenapa?"

"Kau tahu, pertanyaan itu yang malah membuatku semakin membencimu."

"Apa kau bahagia?

"Apa?"

"Apa dengan membenciku itu bisa membuatmu bahagia? Bernafas lega, misalnya?"

"Kamu kenapa sih?"

"Karena sungguh, jika membenciku itu bisa membuatmu bahagia maka bencilah aku sesuka yang kau mau."

"Maumu apa sih? Menyebalkan! Satu-satunya yang membuatku menyesal pergi ke Jogja adalah karena aku harus bertemu kamu!"

***

Maret 2012

"Kamu gila."

"Sudahlah, aku lelah meladenimu. Kau membuat hidupku tidak pernah merasa tenang sejak awal masa perkuliahanku. Menghancurkan mimpi dan harapanku ketika memasuki dunia mahasiswa yang diceritakan banyak orang di kotaku dulu,"

"Kamu memang gila."

"Ah, tapi aku ingin berterima kasih kepadamu. Kau satu-satunya yang menyadari keberadaanku ketika yang lain mengabaikan dan sibuk dengan urusan masing-masing. Meskipun menganggu, kau satu-satunya yang mau mengajakku berbicara."

"Tapi kau gila."

"GILA? APA MAKSUDMU DENGAN GILA? SATU-SATUNYA KEGILAAN DALAM HIDUPKU ADALAH BERSABAR UNTUK SEKIAN TAHUN MENANGGAPI PERTANYAANMU YANG MENGANGGUKU."

"Disitu letak kegilaanmu. Aku tidak pernah benar-benar ada sejak awal."

"Apa maksudmu?"

"Sekarang kau benar-benar sudah gila. Aku harus segera pergi."

"Tunggu! Hey! Kembali! Jangan tinggalkan aku! KUMOHON KEMBALI! K-E-M-B-A-L-I"


***

Desember 2013

Wanita itu duduk meringkuk di ujung kamar kecilnya, mengenggam dasi berwarna hitam yang tadi dibelinya sepulang kuliah. Dililitkan dasi itu di lehernya, kemudian dicekikan dengan erat. Setetes air mata jatuh, wanita itu terus bergumam seperti kaset rusak berulang-ulang, "mati... mati.. mati..."




- Giovanny Putri Andini, sebuah fiksi absurd tentang skizofrenia.
Kadang-kadang saya ingin mengangkat tema ini hahaha >.<
Yogyakarta 15 September 2014

Minggu, 14 September 2014

Bangun!

Halo, selamat terbangun dari dunia mimpi! Selamat menjalani hidup yang sebenar-benarnya. Jauh-jauh hari, kamu sudah menangis dan berjuang untuk bisa sampai ke tempat ini. Sekarang, bangun! Angkat kepalamu! Buka matamu lebar-lebar! Kamu bukan bocah kemarin sore yang menangis karena terjatuh di atas aspal dengan lutut berdarah! Kamu bukan anak kemarin sore yang ngambek karena tidak dibelikan es-krim! Bukan, kamu Giovanny Putri Andini. Wanita tangguh yang tidak datang jauh-jauh kesini, hanya untuk menjadi orang yang kalah.

Selamat bertanggung jawab untuk mimpi-mimpi yang telah kamu susun. Setahun yang lalu, kamu menghamba, menangis, mengiba di atas sejadahmu agar Dia meridhoi kamu bisa berada di tempat ini. Sekarang kamu telah mendapatkan kesempatan itu. Bersyukurlah! Dan cara paling baik untuk mensyukuri nikmat-Nya adalah dengan usaha berjuang keras dan menjalani takdirmu ini dengan sebaik-baiknya. Bersyukurlah, karena Dia Yang Tak Pernah Ingkar, telah berjanji akan menambahkan nikmat bagi orang-orang yang bersyukur.

Selamat belajar di kampus peradaban! Selamat berproses dan bedinamika di kota orang! Selamat bermanfaat bagi orang banyak! Selamat kembali mencoret tinta emas di dalam sejarah kehidupan. Ini bukan akhir dari segalanya, ini awal kembali merangkai mimpi. Jangan ngeluh! Jangan ngeluh! Jangan ngeluh!

Wake up! Your only limit is YOU!



- Giovanny Putri Andini, sebuah tulisan untuk memotivasi diri sendiri.
Yogyakarta, 15 September 2014

Kamis, 21 Agustus 2014

Luka?

Bagaimana mungkin seseorang merasa terluka, bahkan ketika tidak dilukai? Bagaimana mungkin seseorang bisa merasa sakit, bahkan ketika tidak berdarah? Atau jangan-jangan kita yang melukai, tanpa menyadari? Siapa yang terluka, siapa yang melukai? Manusia memang sering kali terlalu bodoh dalam memahami orang lain. Manusia memang menjadi paling menyebalkan saat sudah menjadi amat sok tau.

Katanya kecerdasan manusia dibagi dalam tiga hal; intelektual, iman dan emosi. Adakah yang bisa menguasai ketiganya? Di antara semuanya, boleh aku simpulkan yang paling sulit dimiliki adalah kecerdasan emosi? Boleh aku berpendapat, mereka yang beriman pun terkadang tidak serta merta mempunyai kecerdasan dalam memahami orang lain?

Ya, sebutlah aku adalah orang paling tidak mempunyai kecerdasan emosi; kecerdasan dalam memahami orang lain. Mungkin aku sudah memberimu racun, saat kukira itu adalah segelas madu. Mungkin kukira kau akan terssenyum senang, saat kau diam-diam kesakitan dan sekarat disana. Mungkin aku sudah mencabik-cabik kepalamu dengan pisau, saat kukira aku sedang menyisir rambut panjang dan indahmu dengan lembut. Dan banyak lagi kemungkinan-kemungkinan yang bermunculan dikepalaku. Yang intinya cuma bermuara pada satu; mengapa kamu jadi begitu?

Mencoba tak terlihat, hanya membuatku akan semakin mencarimu. Jangan kira aku tak pernah peduli. Betapapun orang bilang aku adalah yang paling cuek sedunia, untukmu pengecualian. Aku juga tidak tau mengapa. Sudah kehendak Tuhan mungkin, karena aku sebenarnya juga tidak menginginkannya.

Kau benar untuk segalanya. Aku mungkin bukan teman yang baik. Aku bersandiwara untuk terlihat dewasa? Mungkin kau tidak salah, meski aku juga tidak mengetahuinya. Ketika ospek kemarin, dosen di psikologi menjelasakan; ada ruang dalam diri kita yang diketahui orang lain tanpa kita ketahui. Kau wanita paling peka yang pernah aku kenal, mungkin memang menyadarinya.

Ma'af, cuma itu yang bisa kukatakan meski tau semua tak akan selesai dengan kata maaf. Kau boleh pergi lalu membenciku. Biar jarak dan waktu yang mendewasakan kemudian menyembuhkan luka kita.


Teruntuk si cantik, yang kukira akan menjadi sahabat selamanya,
aku masih menyebut namamu dalam rabhitah ku.

- Giovanny Putri Andini
Yogyakarta, 22 Agustus 2014
4:44 AM

Sabtu, 16 Agustus 2014

Hari Kesekian

Ini hari kesekian aku terbangun di pagi hari, di kota yang tidak aku kenali. Entahlah, aku tidak mau menghitung hari lantas bersedih untuk tiap hari yang aku lewatkan tanpa keluarga.

Katanya penyakit parah yang akan menyerang anak rantau adalah rindu akut, yang gigilnya lebih parah dari demam dan sakitnya lebih menggigit dari asam lambung. Penyakit rindu setengah mati, yang membuat hasrat ingin pulang semakin menjadi. Dan sepagi ini, aku sudah tersiksa karena tercekik oleh rasa rindu sebab obrolan sekian menit bersama ayahku dari telepon. Menyedihkan, tiba-tiba.. aku ingin pulang.

Penyebabnya surat undangan dari Fakultas tentang pertemuan orang tua besok. Sebulan yang lalu, jauh-jauh hari kami sudah mengkonfirmasi kehadiran via web. Perjalanan sudah direncanakan. Tapi manusia ternyata memang hanya bisa berencana. Orang tuaku tidak bisa datang ke pertemuan tersebut dan hanya ibu yang ternyata bisa mengantar dan menemaniku beberapa hari di kota pelajar ini.

Pagi tadi laki-laki yang kupanggil Papa tadi menelponku. Memastikan keadaanku baik-baik saja, memastikan perihal kehadirannya yang sudah dibatalkan itu. Itu hanya percakapan tujuh menit, tidak ada yang aneh dari sana. Tidak ada ucapan; aku rindu, aku ingin pulang, atau keluhan lainnya - kendati betapa kalimat itu sangat ingin aku keluarkan. Ketimbang memilih berlama-lama dalam obrolan, aku malah cepat-cepat ingin mengakhiri beralasan ingin segera melanjutkan tugas ospek. Karena aku tau, semakin lama aku membuang tiap menit dengan mendengar suara Papa di ujung telpon, itu malah semakin membuatku merindukannya dan semakin sedih.

Ah tapi lucunya, kesendirian malah membuatku bersyukur dengan banyaknya tugas ospek yang rasanya tak sudah-sudah. Setidaknya dalam kesenderian aku bisa mengerjakan tugas sampai kelelahan hingga aku tak punya waktu untuk sekedar merasa rindu dan kesedihanku itu sendiri sedikit terlupakan. Kesibukan memang adalah obat paling mujarab bagi mereka yang didera rindu.

Ya, meski memang sehebat apapun kegiatanku, tetap saja tidak ada yang tahu betapa sepinya hatiku. Hmm..



Yogyakarta, 17 Agustus 2014.
Dirgahayu indonesia pertama bukan di rumah.