Langsung ke konten utama

Postingan

Surat Kaleng untuk Papa

Palembang, 24 April 2014


Papa, kakak kangen.
Kakak kangen ngobrol bersama Papa, berdua saja. Kakak ingin cerita tentang banyak hal. Tentang sekolah, kakak ingin berterima kasih karena Papa dulu sudah memaksa kakak sekolah di tempat ini. Tentang organisasi, kakak ingin Papa tahu bahwa kakak berkumpul dan terjebak bersama banyak kebaikan disini. Tentang hati, ah.. kakak ingin tahu apa yang dipikirkan seseorang laki-laki saat membuat wanita patah hati hehe.

Papa, kakak kangen.
Kakak kangen ketika Papa masih punya banyak waktu di rumah. Kakak ingin Papa duduk lagi di tengah-tengah kami lalu membuat cerita konyol yang membuat kami tidak bisa berhenti tertawa. Kakak ingin Papa duduk di samping kakak, membantu kakak sama dedek untuk menyelesaikan PR dan belajar setiap malam. Kakak bahkan kangen dimarahi Papa, kalo kakak lupa sama rumus matematika atau kakak sembarangan menjawab soal bahasa inggris karena malas mencari arti di kamus. Dulu kakak sering kali kesal karena tuntutan Papa yang sela…
Postingan terbaru

Pertanyan Tentang Pertanyaan

Harus bagaimana jika menerapkan atau mengembalikan kultur islam yang baik ke dalam sebuah lembaga dakwah justru ternyata mendapat penentangan dari anggotanya? Harus apa lagi, jika kebijakan-kebijakan yang kita inginkan untuk kemashlatan bersama, justru katanya menciderai perasaan para anggotanya? Apa yang salah? Terlalu muluk kah ketika kita menginginkan sebuah keidealan dalam lembaga dakwah?

Pemahaman bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Mungkin kita memang kurang duduk bersama, dan berbicara dari hati ke hati dengan lapang. Aih, tapi diantara semua kemungkinan yang ada, satu yang paling pasti adalah: tidak pernah ada keinginan yang buruk dari kami untuk lembaga ini dan semua pihak terkait kecuali untuk kebaikan. Perbedaan indikator maupun kriteria nilai kebaikan itu yang lalu membuat ketidaknyamanan yang ada, benarkah?





Lagi-lagi, entahlah.










Allah, harus bagaimanakah? Atau harus seperti apakah?



Sleman, 17 Juni 2017.
Di tengah kekalutan dalam suasana i'tikaf yang mestinya syahdu di…

Ter-sengat!

HUAAAAAH!! Ketika sedang membersihkan sarang laba-laba di blog, ketemu ini... tulisan zaman alay, tepat setelah mendaftar SNMPTN!!! :')


***

Akhirnya selesai juga finalisasi Pendaftaran SNMPTN. Bagaimana rasanya? Lega.

Tidak ada keringat dingin yang bercucuran, tidak ada rasa cemas, tidak ada rasa takut, tidak ada perut mual, tidak ada rasa ragu. Biasa saja. Pendaftaran SNMPTN yang awalnya saya kira rumit dan bertele-tele ternyata berjalan lancar tanpa hambatan yang berarti. Saya sudah mengkomunikasikannya kepada Allah, sudah menentukan pilihan, sudah meneguhkan hati, sudah memeluk ridho dari Mama sama Papa. Jadi apapun hasilnya nanti, tidak perlu ada penyesalan.

Orang bilang saya nekat. Berapa teman-teman saya -yang peduli- berusaha menjadi palu untuk membantu memecahkan kepala batu saya. Tapi sekeras apapun mereka mencoba, hasilnya selalu percuma. Setiap kali keraguan menghampiri, selalu saja datang penjelasan dalam bentuk apapun yang membuat keyakinan saya malah semakin bertamb…

Dunia Miskin Apresiatif

Kalo dalam Psikologi pendidikan, katanya kurangnya sikap apresiatif akan membentuk orang-orang yang miskin kepercayaan diri. Dapat juga (katanya) memunculkan kecewa dan melunturkan semangat. Apakah iya dan apakah benar?

Mungkin bagi sebagian orang hal itu memang terbukti.. tapi menurut saya, bagi mereka yang bijak, kurangnya apresiasi dari lingkungan justru melahirkan kita sebagai orang-orang yang kuat dan tangguh, orang-orang yang tidak pernah peduli pujian, tepuk tangan apalagi sekedar ucapan terima kasih. Orang-orang yang ikhlas beramal karena Allah, akan lebih mudah terbentuk pada lingkungan yang pelit apresiasi.

Jadi, jika saja.. nanti ada yang bertanya, "kamu udah ngapain aja?" ketika kamu sudah memberikan semuanya untuk sesuatu itu. Jadi ketika ada yang marah-marah, ketika kamu sudah berjuang dan mengorbankan apa pun yang kamu bisa. Ketika ada orang yang bisanya cuma komentar, padahal tidak pernah benar-benar terlibat dan mengetahui kerja-kerjamu selama ini. Senyumin …

Cerpen: Luka itu Bernama Ibu

Aku masih bisa melihat, bagaimana asap itu mengepul dari cangkir yang diletakkan di depanku. Sebuah cangkir porselen kecil berwarna biru muda dengan ukiran bunga tulip berwarna pink. Air teh yang berwarna kecoklatan mengisi gelas itu sampai penuh. Aku menghela nafas panjang. Aku tidak  pernah suka minum teh.
Wanita tua di depanku ini masih tampak cantik meski wajahnya dipenuhi dengan gurat-gurat kelelahan. Tidak ada yang istimewa dengan tampilannya, hanya bedak tipis sekedarnya dengan lipstik berwarna merah muda khas dandanan ibu-ibu berusia lima puluh tahunan. Matanya yang besar dan indah tampak sayu kehilangan sinarnya, rahangnya besar, hidungnya kecil dipadukan lekukan bibir yang tampak sangat pas di wajahnya. Sekali saja dipandangi, semua orang akan sepakat bahwa bagaimanapun sisa-sisa kecantikannya di masa muda masih berbekas di wajahnya.
"Bagaimana kabarmu?" wanita itu akhirnya membuka obrolan, ragu-ragu bertanya.
Aku diam sejenak. Merapikan dudukku sebelum tersenyum tipi…

Cinta? Benarkah?

Dalam hidupmu, mungkin kamu pernah melakukan segala sesuatu yang tak pernah kau lakukan sebelumnya. Seperti menghapus dan menutup semua akun media sosialmu, pergi ke ruang sirkulasi perpustakaan pusat untuk pertama kali, mengurangi berbicara di depan umum meskipun berbicara adalah hal yang kau suka dalam hidup, sampai membaca buku-buku yang membuat keningmu berkerkerut hanya agar mengerti apa yang dia sukai.

Saya tidak tau apakah sudah ada riset ilmiah tentang temuan di atas. Tapi bolehlah saya dengan ke-sok-tahu-an menyimpulkan bahwa perilaku di atas disebabkan oleh "cinta".

Saya jadi ingat dengan ayah dan ibu saya. Ayah saya adalah seseorang yang sangat menyukai buah blewah. Sedangkan ibu saya adalah orang yang mencium bau buah blewah saja rasanya sudah mual. Namun yang menarik adalah setiap Ramadhan, Ibu saya selalu menyempatkan dan mengusahakan untuk sesekali membuatkan es buah blewah untuk berbuka puasa. Harus apa kita sebut itu, selain cinta?

Aih, saya juga ternyata du…

Tentang Hidup

"Aku kesel," begitu selalu kalimat pertama yang diucapkan perempuan itu setiap malam. Macam rutinitas yang biasanya akan dilanjutkan dengan keluhan-keluhan lainnya.

"Aku bahagia!" seorang teman sekamarnya menimpali dengan riang, menggodanya dengan senyum lebar.

"Ya emang hidupmu kan bahagia terus," jawabnya lagi dengan tajam sambil mengetik-ngetik sesuatu dengan cepat di hadapan laptopnya. Sesekali menggaruk kepala pusing, atau mengipas-ngipas lehernya dengan jari.

"Mbok yang tenang," kata temannya tadi mengantarkan segelas air putih, masih tidak lupa tersenyum.

 "Hiks, aku iri sama kamu... kayaknya hidup itu gampang amat. Bahagia. Tadi aku telat masuk kelas, terus juga inhal lagi.. laporanku juga numpuk. Ya begitu, mana lagi temen kelompokku ga bisa dihubungi jadi terpaksa kita yang back up tugasnya," kali ini dipeluknya teman sekamarnya yang selalu tersenyum itu. "Aku capek".

Perempuan yang satunya itu diam saja, tak berkom…