Langsung ke konten utama

Pos

Dunia Miskin Apresiatif

Kalo dalam Psikologi pendidikan, katanya kurangnya sikap apresiatif akan membentuk orang-orang yang miskin kepercayaan diri. Dapat juga (katanya) memunculkan kecewa dan melunturkan semangat. Apakah iya dan apakah benar?

Mungkin bagi sebagian orang hal itu memang terbukti.. tapi menurut saya, bagi mereka yang bijak, kurangnya apresiasi dari lingkungan justru melahirkan kita sebagai orang-orang yang kuat dan tangguh, orang-orang yang tidak pernah peduli pujian, tepuk tangan apalagi sekedar ucapan terima kasih. Orang-orang yang ikhlas beramal karena Allah, akan lebih mudah terbentuk pada lingkungan yang pelit apresiasi.

Jadi, jika saja.. nanti ada yang bertanya, "kamu udah ngapain aja?" ketika kamu sudah memberikan semuanya untuk sesuatu itu. Jadi ketika ada yang marah-marah, ketika kamu sudah berjuang dan mengorbankan apa pun yang kamu bisa. Ketika ada orang yang bisanya cuma komentar, padahal tidak pernah benar-benar terlibat dan mengetahui kerja-kerjamu selama ini. Senyumin …
Pos terbaru

Cerpen: Luka itu Bernama Ibu

Aku masih bisa melihat, bagaimana asap itu mengepul dari cangkir yang diletakkan di depanku. Sebuah cangkir porselen kecil berwarna biru muda dengan ukiran bunga tulip berwarna pink. Air teh yang berwarna kecoklatan mengisi gelas itu sampai penuh. Aku menghela nafas panjang. Aku tidak  pernah suka minum teh.
Wanita tua di depanku ini masih tampak cantik meski wajahnya dipenuhi dengan gurat-gurat kelelahan. Tidak ada yang istimewa dengan tampilannya, hanya bedak tipis sekedarnya dengan lipstik berwarna merah muda khas dandanan ibu-ibu berusia lima puluh tahunan. Matanya yang besar dan indah tampak sayu kehilangan sinarnya, rahangnya besar, hidungnya kecil dipadukan lekukan bibir yang tampak sangat pas di wajahnya. Sekali saja dipandangi, semua orang akan sepakat bahwa bagaimanapun sisa-sisa kecantikannya di masa muda masih berbekas di wajahnya.
"Bagaimana kabarmu?" wanita itu akhirnya membuka obrolan, ragu-ragu bertanya.
Aku diam sejenak. Merapikan dudukku sebelum tersenyum tipi…

Cinta? Benarkah?

Dalam hidupmu, mungkin kamu pernah melakukan segala sesuatu yang tak pernah kau lakukan sebelumnya. Seperti menghapus dan menutup semua akun media sosialmu, pergi ke ruang sirkulasi perpustakaan pusat untuk pertama kali, mengurangi berbicara di depan umum meskipun berbicara adalah hal yang kau suka dalam hidup, sampai membaca buku-buku yang membuat keningmu berkerkerut hanya agar mengerti apa yang dia sukai.

Saya tidak tau apakah sudah ada riset ilmiah tentang temuan di atas. Tapi bolehlah saya dengan ke-sok-tahu-an menyimpulkan bahwa perilaku di atas disebabkan oleh "cinta".

Saya jadi ingat dengan ayah dan ibu saya. Ayah saya adalah seseorang yang sangat menyukai buah blewah. Sedangkan ibu saya adalah orang yang mencium bau buah blewah saja rasanya sudah mual. Namun yang menarik adalah setiap Ramadhan, Ibu saya selalu menyempatkan dan mengusahakan untuk sesekali membuatkan es buah blewah untuk berbuka puasa. Harus apa kita sebut itu, selain cinta?

Aih, saya juga ternyata du…

Tentang Hidup

"Aku kesel," begitu selalu kalimat pertama yang diucapkan perempuan itu setiap malam. Macam rutinitas yang biasanya akan dilanjutkan dengan keluhan-keluhan lainnya.

"Aku bahagia!" seorang teman sekamarnya menimpali dengan riang, menggodanya dengan senyum lebar.

"Ya emang hidupmu kan bahagia terus," jawabnya lagi dengan tajam sambil mengetik-ngetik sesuatu dengan cepat di hadapan laptopnya. Sesekali menggaruk kepala pusing, atau mengipas-ngipas lehernya dengan jari.

"Mbok yang tenang," kata temannya tadi mengantarkan segelas air putih, masih tidak lupa tersenyum.

 "Hiks, aku iri sama kamu... kayaknya hidup itu gampang amat. Bahagia. Tadi aku telat masuk kelas, terus juga inhal lagi.. laporanku juga numpuk. Ya begitu, mana lagi temen kelompokku ga bisa dihubungi jadi terpaksa kita yang back up tugasnya," kali ini dipeluknya teman sekamarnya yang selalu tersenyum itu. "Aku capek".

Perempuan yang satunya itu diam saja, tak berkom…

Self Talk: Dipercaya (?)

"Mbak gio, adalah satu-satunya yang paling banyak tau rahasiaku."**

Well, sebenarnya itu memang hanya sebuah ungkapan sederhana. Namun menjadi tidak sederhana ketika yang menyampaikannya kepadamu, adalah seseorang yang tak lama kau kenal, yang memiliki karakteristik sangat berbeda denganmu, yang seringnya membicarakan hal-hal aneh dan tak kau mengerti.. namun ternyata juga adalah orang yang sangat mempercayaimu untuk menyimpan rahasia-rahasianya.

Yang setiap kali bercerita adalah orang yang membuatmu kadang geleng-geleng kepala. Usianya lebih muda darimu, namun kau mengakui bahwa dalam beberapa hal dia mengetahui lebih banyak darimu. Meskipun kadang juga kau menemukan sisi kekanak-kanakan dari dirinya, terlebih dari segi "emosi", sehingga entah bagaiamana  kau menemukan dirimu ternyata telah melakukan akselarasi secepat ini dalam soal bersabar dan belajar bagaimana menjadi penyejuk hati(?)

Ah, gi.. ternyata dirimu telah berubah banyak ya. Rasanya kemarin kau masih…

:)

Januari. 2015. Jaket Forga dan Ruang MC Sekretariat JS Lantai 1.

Itu pertama kali aku melihatnya. Sosok perempuan yang berisik banget di grup forga dan tampak akrab dengan anak-anak forga 14 lainnya. Berbeda denganku yang selama satu semester kemarin menghilang. Tak kenal siapa-siapa. Sejujurnya kemarin, ketika kami sama-sama dimasukkan ke grup sebagai PJ pembagian jaket forga (yang warnanya alay banget), aku men-stalking home line-nya.
Aku lupa bagaimana perkenalan kami. Tapi dia orang yang bersemangat dan ceria. Orangnya juga sangat ekspresif dan suka bercanda. Tiba-tiba aku merasa cocok berkawan dengannya, bahkan di awal kami berjumpa.
Januari. 2017. Operasi dan Rumah Sakit.
Sejujurnya aku kesal. Entah kesal kepada dirimu atau ketidakberdayaanku untuk bisa membersamaimu di rumah sakit di hari operasimu besok. Alih-alih ingin memeluk dan memberi semangat, aku justru tidak sabar ingin menjitak dan memarahimu. Persahabatan kita memang aneh Uzi. Setiap kali ketemu, kerjaan kita malah ge…

Buku Harian Ibu

Tulisan ini akan diawali dengan kisahku atas ketidaksengajaan menemukan sebuah buku harian usang bersampul doraemon. Di antara tumpukan album-album foto lama dan kertas-kertas berharga semacam ijazah lainnya. Ketimbang membolak-balik album yang dulu amat sering kubuka, entah kenapa aku penasaran dengan buku bersampul putih tersebut lalu membuka lembar pertamanya.

Dan ternyata, para pembaca yang budiman... itu adalah buku harian mamaku ketika masih SMA dan masih alay hahaha. Tentu saja hal ini membuatku kaget tapi bahagia karena aku bisa setidaknya mengintip masa-masa kealayan ibuku di zaman muda. Segera kuselamatkan harta berharga itu ke kamar, lalu kututup rapat-rapat dan kunikmati lembar tiap lembar yang berwarna kekuningan itu.
Buku harian yang ditulis dari bulan februari 1993 sampai januari 1994 itu, berkisah tentang keseharian dan kegalauan anak kelas 3 SMA pada umumnya. Tentang sahabat-sahabatnya, tentang kelasnya, tentang kegalauan UMPTN (yang sekarang kita sebut SBMPTN), yang …