Sabtu, 07 Januari 2017

:)

Januari. 2015. Jaket Forga dan Ruang MC Sekretariat JS Lantai 1.

Itu pertama kali aku melihatnya. Sosok perempuan yang berisik banget di grup forga dan tampak akrab dengan anak-anak forga 14 lainnya. Berbeda denganku yang selama satu semester kemarin menghilang. Tak kenal siapa-siapa. Sejujurnya kemarin, ketika kami sama-sama dimasukkan ke grup sebagai PJ pembagian jaket forga (yang warnanya alay banget), aku men-stalking home line-nya.

Aku lupa bagaimana perkenalan kami. Tapi dia orang yang bersemangat dan ceria. Orangnya juga sangat ekspresif dan suka bercanda. Tiba-tiba aku merasa cocok berkawan dengannya, bahkan di awal kami berjumpa.

Januari. 2017. Operasi dan Rumah Sakit.

Sejujurnya aku kesal. Entah kesal kepada dirimu atau ketidakberdayaanku untuk bisa membersamaimu di rumah sakit di hari operasimu besok. Alih-alih ingin memeluk dan memberi semangat, aku justru tidak sabar ingin menjitak dan memarahimu. Persahabatan kita memang aneh Uzi. Setiap kali ketemu, kerjaan kita malah gelut dan berantem laiknya anak kecil. Saling pukul, saling tarik jilbab, saling dorong sampai kita harus selalu dipisahkan oleh yang lain karena tindakkan kekanak-kanakaan kita (kapan ya kita jadi akhwat anggun, kalem, pendiam dan dewasa wkwk?).

Tapi zizi, inget gak suatu waktu di hari kamis ketika kamu galau dan aku bolos tiga mata kuliah untuk menemanimu dan kita kabur ke pantai goa cemara? Aku inget banget, kamu nangis sepanjang perjalanan di motor dan kita nangis berdua setelah teriak-teriak di tepi pantai (Iyuuuh, alay bangeeeeet
 wkwwkwk). Harusnya kalo bisa mengulang waktu aku bawa kamu aja ya, ke tempat ruqyah. Wkwk, maafin.. maaf aku mungkin memang jahat, tapi aku sungguh sayang kamu... semoga kamu senyum terus dan ceria.

Kamu plisss cepet sehat, operasi besok harus lancar, dan nanti kalo aku balik jogja kamu harus traktir aku(?) Kamu harus sehat zi, biar kita bisa terus belajar dan mewujudkan harapan-harapan kita kaann... Kamu jangan stres-stres melulu dan bangkit, kan mau lulus tahun depan? Februari 2018 zi? Katamu mau wisuda?

Ziziiii.. ma'af ini bukan tulisan manis dengan rangkaian kata-kata indah. Tapi zi, kalo aku sampe nulis tentang kamu di blog ini, itu artinya kamu sangat spesial sampai kamu aku abadikan di tempat ini. Jarak itu hanya kumpulan angka pada peta kan, zi? Hati kita insyaAllah selalu dekat. Do'aku membersamaimu~


Ribuan kilometer dari Jogja, teruntuk parnter "alay"ku
8 Januari 2016

(c) Giovanny Putri Andini

Jumat, 06 Januari 2017

Buku Harian Ibu

Tulisan ini akan diawali dengan kisahku atas ketidaksengajaan menemukan sebuah buku harian usang bersampul doraemon. Di antara tumpukan album-album foto lama dan kertas-kertas berharga semacam ijazah lainnya. Ketimbang membolak-balik album yang dulu amat sering kubuka, entah kenapa aku penasaran dengan buku bersampul putih tersebut lalu membuka lembar pertamanya.

Dan ternyata, para pembaca yang budiman... itu adalah buku harian mamaku ketika masih SMA dan masih alay hahaha. Tentu saja hal ini membuatku kaget tapi bahagia karena aku bisa setidaknya mengintip masa-masa kealayan ibuku di zaman muda. Segera kuselamatkan harta berharga itu ke kamar, lalu kututup rapat-rapat dan kunikmati lembar tiap lembar yang berwarna kekuningan itu.

Buku harian yang ditulis dari bulan februari 1993 sampai januari 1994 itu, berkisah tentang keseharian dan kegalauan anak kelas 3 SMA pada umumnya. Tentang sahabat-sahabatnya, tentang kelasnya, tentang kegalauan UMPTN (yang sekarang kita sebut SBMPTN), yang bahkan aku juga baru tahu bahwa dulu mama diterima di fakultas teknik tapi disuruh oma pindah ke jurusan manejemen. Hmm, tapi tentu remaja dan romansa adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Menariknya disini aku membaca kisah cinta dalam diamnya mama kepada sosok laki-laki yang kini juga kupanggil papa.

Ini kisah tentang seorang perempuan ceria yang punya banyak teman, lalu tiba-tiba jatuh cinta terhadap laki-laki tampan, pintar dan pendiam yang merupakan anak pindahan ke sekolahnya. Entah kenapa mereka bisa dekat, di buku itu tiba-tiba mereka sudah menjadi sahabat dekat yang misalnya di sekolah Papa selalu bantu ngajarin Mama pelajaran, lalu kadang-kadang mereka pulang sekolah bareng padahal rumahnya berlawanan arah (Jadi papa nganterin mama pulang naik angkot). Terus papa sering nelpon mama (pake telepon rumah), ini yang bikin saya ketawa, suatu waktu dikisahkan mama sedang tidur siang dan oma bangunin mama karena papa nelpon. Isi telponnya juga sederhana, cuma nanya besok ujian apa, besok pr apa, udah ngerjain pr belum dan gosipin guru (papa ane ternyata pinter modus wkwk). Lalu papa juga kadang-kadang main ke rumah mama, dan disana diceritakan karena mereka sama-sama malu akhirnya mereka surat-suratan padahal duduk berhadapan hahaha. Pokoknya di buku itu semua dituliskan tentang betapa besarnya cinta mama terhadap sahabatnya itu, betapa rindunya mama ketika suatu waktu papa pulang kampung dan tak kunjung menelpon, dan betapa sangaaaat besar harapan mama bahwa kelak ia akan menikah dengan laki-laki tersebut.

Aku tidak membaca semuanya secara keseluruhan, aku hanya asal membuka lembar-lembar tertentu dan membaca. Itulah pentingnya menulis, untuk mengabadikan rasa maupun moment yang tak akan terulang dua kali. Untuk sebuah pelajaran dan perbaikan di masa depan. Pun juga menulis di blog yang seperti aku lakukan ini, agar kelak ketika anak-anakku besar dan tak suka mendengar celoteh dari wanita cerewet yang sebenarnya sangat menyayanginya, mereka tetap bisa mengenal kisahku dari tulisan-tulisan yang aku tinggalkan untuk mereka.

Dan sebagai sebuah renungan, kisah seperti apa yang akan kita nanti bagikan kepada anak-anak kita? Akankah sesuatu yang biasa saja, atau tentang sebuah perjuangan sosok ayah dan ibunya di masa muda? Akankah kita kisahkan roman tentang laki-laki dan perempuan yang berpacaran sekian tahun lalu menikah, atau kisah tentang bagaiaman seorang laki-laki dan perempuan berusaha memantaskan diri dengan ilmu dan amal sebelum akhirnya bertemu dan menggenapkan separuh agamanya?


Wahai anakku di masa depan, bacalah ini kelak ketika nanti kau cukup besar.. Kisah cinta ayah dan ibumu mungkin tidak seromantis novel-novel roman yang nanti mungkin pernah kau baca, mungkin tidak semiris cintanya Qais kepada Laila yang rela menjadi majnun(gila) demi kematian kekasihnya, mungkin tidak juga sampai semenyejarah Habibi dan Ainun yang kisahnya sampai dibuatkan film.. tapi sungguh percayalah sayang, akan ibu siapkan sebuah kisah keteladanan bagaiamana seorang laki-laki dan perempuan mengikatkan ikatan halal dalam sesuatu yang diatur syariat. Akan ibu buktikan bahwa yang terjaga dirinya dari maksiat, hanyalah untuk yang menjaga dirinya dari maksiat. Sebab sayang, yang akan kita bangun adalah keluarga dakwah untuk peradaban yang lebih baik :)

Palembang, 7 Januari 2017
Gioanny Putri Andini
10:22 AM

Selasa, 16 Februari 2016

Menjadi Akar

Aku ingin menjadi akar saja.


... yang bekerja di bawah tanah. Bekerja dalam diam, dalam sunyi, tak dikenal. 
Meski buah yang dicintai banyak orang sebab manisnya, meski rimbun daun yang dipuji banyak orang karena teduhnya, meski kokoh batang yang disukai sebab kuatnya.

Meski mereka lupa, akar yang menyerap air untuk pohon, juga yang mencengkram tanah dengan kuat agar pohon tak tumbang diterpa angin.





Tak apa. Penilaian orang tak penting. Aku cukup menjadi akar saja.


Yogyakarta, 17 Februari 2015.
(c) Giovanny Putri Andini
0:24 am

Rabu, 13 Januari 2016

Kepulangan



Beberapa waktu yang lalu, aku tidak mau pulang. Bukan, bukan tidak rindu. Tapi itu lebih dikarenakan aku merasa urusanku di Jogja masih banyak yang harus dibereskan, terlebih aku takut bahwa kepulanganku hanya akan membuat waktuku menjadi tidak produktif. Benar. Sebuah ketakutan yang egois.

***

Sebulan yang lalu aku mengobrol dengan adik perempuanku yang nomor dua, yang jarak kelahirannya tidak sampai satu tahun di bawahku, yang pikirannya jauh lebih dewasa dariku, yang untuk beberapa hal lebih pantas disebut kakak dari pada aku.
"Kakak mau pulang cuma seminggu?" kira-kira itu pertanyaannya diikuti nada kesal dari ujung telpon.
"Cuma dapet izin dari asrama segitu, mau gimana lagi?"
Lalu aku mendapat omelan panjang pendek dari adikku, dia mulai berbicara tentang kalkulasi pengeluaran biaya yang akan keluar untuk ongkosku dan estimasi waktu yang akan aku habiskan di rumah nanti. Agak kesal mendengar adikku berbicara tentang uang, sedang Papa sendiri tidak pernah meributkannya, kami mengakhiri pembicaraan kami dengan akhir yang buruk. Biasa sebenarnya, kami memang bukan tipikal kakak adik yang romantis dan memang lebih sering bertengkar.

Tapi dari obrolan itu aku banyak merenung. Orang tuaku memang tidak pernah meributkan "mahalnya" ongkos pulang, tapi aku agaknya merasa sayang juga, sebab ongkos bolak-balik pesawat Yogyakarta - Palembang itu bahkan lebih mahal dari SPP tahunan asrama saya. Dan, Papa tidak pernah sekalipun berpikir bahwa putri sulungnya cukup dewasa untuk dibiarkan naik bus sendirian berhari-hari untuk pulang. Bahkan semester kemarin, ketika aku ingin pulang bersama teman-temanku yang juga ingin naik bus, tetap saja tidak diizinkan.

Setidaknya kesibukan di asrama untuk mengikuti dauroh fiqih selama 10 hari, -dengan tugas-tugas bacaan yang banyak dan harus dibaca dan kelas-kelas yang tak bisa ditinggal- mulai menghapus rasa sedih dan bersalahku yang tidak bisa pulang. Toh, ini jihad, hiburku kepada diri sendiri. Kecintaan terhadap ilmu, yang kemudian membuatku harus mengorbankan waktu libur dan istirahatku semoga bisa berbuah surga. Dan segala macam pembenaran yang aku buat-buat sendiri untuk menghibur diriku.

***  
Dan kemudian waktu berlalu, aku lupa dengan keinginan untuk pulang sampai berita tentang orang hilang yang ikut aliran sesat gafatar sampai kepadaku. Tiba-tiba aku  langsung ingat orang tuaku di rumah. Mereka pasti cemas dan khawatir, apalagi kejadian orang hilang itu di Jogja. Meski mereka tak akan serta merta (lagi) langsung menuduh dan lebih hati-hati mencurigaiku karena aku  terlalu sering terisak dan terluka acapkali orang tuaku mulai menuduhku mengikuti aliran sesat atau ekstrimis.

Bebarengan dengan itu, tiba-tiba aku segera mendapatkan SMS dari akademik melalui SIT (Sistem Informasi Terintegrasi) Fakultas yang menginfokan, kuliah yang harusnya tanggal 1 Februari mundur menjadi 9 Februari. Aku mulai merasa saya bisa pulang, aku lalu segera melihat-lihat harga tiket kereta dan pesawat. Biar lebih hemat, mungkin aku bisa coba naik kereta ke jakarta dan dari Soeta bisa naik pesawat ke Palembang. Aku malah segera ke lempuyangan, membeli tiket ekonomi (sampai ingin berhematnya) ke Jakarta. Dengan kenekatanku dan tanpa meminta izin dulu sama ummi maupun musyrifah asrama.

Kemarin malam aku menelpon mama, benar saja aku segera dikejar pertanyaan tentang Gafatar dan setelah aku jelaskan pelan-pelan, baru kemudian aku ceritakan niat untuk pulang dan jalur transport yang aku pilih. Aku mendengar nada bahagia (yang kemudian membuatku aru), dan mama segera menyuruhku untuk langsung berbiacara dengan papa tentang rencana kepulangan.

Dari ujung telpon terdengar Papa tampak kaget  tapi  aku  lebih kaget lagi ketika mendengar jawaban dari ayah saya, "Udah sebut aja, mau pulang tanggal berapa dan balik ke jogja tanggal berapa, nanti langsung Papa cariin tiket pesawat," katanya dengan nada kaku seperti biasa. "Eh? Tapi kakak sudah beli tiket kereta ke jakarta. Cuma 82.500 sih, naik progo" aku menjawab cepat dengan agak terpana. "Heeh, bahayalah anak gadis naik kereta api sendiri, udah naik pesawat aja". Aku kemudian hanya bisa menurut, dan kurang dari satu jam aku sudah dikirimkan kode booking pesawat oleh laki-laki paling tampan sedunia itu. Akhirnya dengan perasaan ketar-ketir, karena belum mendapatkan izin dari musyrifah asrama, aku akan pulang.

***

Tepat tadi siang, aku kembali membuka sebuah grup yang tiba-tiba rame ketika ada yang nanya 'sudah pada pulang?'. Iseng kemudian aku menceritakan sedikit kronologis dan kepulangan yang tidak disengaja akan terjadi. Semua berjalan biasa, sampai ada orang -yang biasanya selalu ngeselin dimanapun haha- tiba-tibu muncul dan ikut komentar 'Pulanglah. Pulang aja, selagi ada kesempatan pulang'. Dan aku terdiam cukup lama.

Sederhana sih sebenernya, dia juga ngetik itu asal ngetik tanpa pemikiran yang panjang atau niat untuk membuatku terkesan. Tapi kata di ujung kalimatnya benar-benar menyadarkanku. Pulang aja, selagi ada kesempatan. Kesempatan. Iya, kesempatan. Karena tidak semua orang punya kesempatan pulang. Aku jadi teringat seorang teman dari fakultas geografi yang rumahnya di NTT, sudah dari tahun lalu dia belum bisa pulang, bahkan ketika idul fitri kemarin. Sejak kepergiannya ke Jogja untuk kuliah, sampai hari ini dia juga belum bisa pulang. Kubaca lagi kalimat sederhana itu, dan air mataku menetes.

Aku sering lupa, bahwa harusnya aku bersyukur. Dengan segala nikmat yang diberikan oleh Allah, kalau libur mau pulang, ya orang tuaku bisa dengan mudah langsung bilang iya, dan aku bisa pulang. Jadi semacam teringat sebuah pepatah yang cukup terkenal; we busy growing old, and forget our parent getting old. Kenapa aku sempat sebodoh itu ya? Siapa yang menjamin dengan umur, apakah benar aku bisa bertemu dengan kedua orang tuaku lengkap di semester depan? Siapa yang menjamin rezeki, apakah iya semester depan orang tuaku masih punya cukup uang untuk membiayai transport kepulanganku?

Dan lagi, sebagaimana seorang anak perempuan harusnya aku juga mikir. Bahwa nanti ketika aku sudah menikah, aku akan sepenuhnya menjadi istri dari suamiku. Lalu siapa yang bisa menjamin, jika nanti ternyata takdirnya aku menikah dengan seseorang yang tidak tinggal di kampung halamanku? Maka harusnya, sebagai seorang yang statusnya masih dalam tanggungan orang tua, aku harus lebih banyak berbakti total kepada mereka, membahagiakan mereka.

Mengutip dari buku yang ditulis Moh Fauzil adhim, ternyata menyenangkan orang tua -khususnya ibu- lebih diutamakan dari berjihad untuk menegakkan agama Allah. Dalam hadits dituturkan seperti ini:
Dari Abdullah bin Umar, seorang laki-laki mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam kemudian berkata kepada beliau, "Saat aku berbaiat kepadamu untuk hijrah, aku tinggalkan kedua orangtuaku dalam keadaan menangis."
Rasulullahi 'alaihi wa sallam berkata," kembalilah kepada kedua orang tuamu dan perlakukanlah mereka berdua hingga tertawa gembira sebagaimana engkau telah tinggalkan dalam keadaan menangis." (HR. An-Nasa'i)
Dan tekadku semakin bulat, aku akan pulang!


16.07 PM
Yogyakarta, 13 Januari 2016
(c) Giovanny Putri Andini