Rabu, 13 Januari 2016

Kepulangan



Beberapa waktu yang lalu, aku tidak mau pulang. Bukan, bukan tidak rindu. Tapi itu lebih dikarenakan aku merasa urusanku di Jogja masih banyak yang harus dibereskan, terlebih aku takut bahwa kepulanganku hanya akan membuat waktuku menjadi tidak produktif. Benar. Sebuah ketakutan yang egois.

***

Sebulan yang lalu aku mengobrol dengan adik perempuanku yang nomor dua, yang jarak kelahirannya tidak sampai satu tahun di bawahku, yang pikirannya jauh lebih dewasa dariku, yang untuk beberapa hal lebih pantas disebut kakak dari pada aku.
"Kakak mau pulang cuma seminggu?" kira-kira itu pertanyaannya diikuti nada kesal dari ujung telpon.
"Cuma dapet izin dari asrama segitu, mau gimana lagi?"
Lalu aku mendapat omelan panjang pendek dari adikku, dia mulai berbicara tentang kalkulasi pengeluaran biaya yang akan keluar untuk ongkosku dan estimasi waktu yang akan aku habiskan di rumah nanti. Agak kesal mendengar adikku berbicara tentang uang, sedang Papa sendiri tidak pernah meributkannya, kami mengakhiri pembicaraan kami dengan akhir yang buruk. Biasa sebenarnya, kami memang bukan tipikal kakak adik yang romantis dan memang lebih sering bertengkar.

Tapi dari obrolan itu aku banyak merenung. Orang tuaku memang tidak pernah meributkan "mahalnya" ongkos pulang, tapi aku agaknya merasa sayang juga, sebab ongkos bolak-balik pesawat Yogyakarta - Palembang itu bahkan lebih mahal dari SPP tahunan asrama saya. Dan, Papa tidak pernah sekalipun berpikir bahwa putri sulungnya cukup dewasa untuk dibiarkan naik bus sendirian berhari-hari untuk pulang. Bahkan semester kemarin, ketika aku ingin pulang bersama teman-temanku yang juga ingin naik bus, tetap saja tidak diizinkan.

Setidaknya kesibukan di asrama untuk mengikuti dauroh fiqih selama 10 hari, -dengan tugas-tugas bacaan yang banyak dan harus dibaca dan kelas-kelas yang tak bisa ditinggal- mulai menghapus rasa sedih dan bersalahku yang tidak bisa pulang. Toh, ini jihad, hiburku kepada diri sendiri. Kecintaan terhadap ilmu, yang kemudian membuatku harus mengorbankan waktu libur dan istirahatku semoga bisa berbuah surga. Dan segala macam pembenaran yang aku buat-buat sendiri untuk menghibur diriku.

***  
Dan kemudian waktu berlalu, aku lupa dengan keinginan untuk pulang sampai berita tentang orang hilang yang ikut aliran sesat gafatar sampai kepadaku. Tiba-tiba aku  langsung ingat orang tuaku di rumah. Mereka pasti cemas dan khawatir, apalagi kejadian orang hilang itu di Jogja. Meski mereka tak akan serta merta (lagi) langsung menuduh dan lebih hati-hati mencurigaiku karena aku  terlalu sering terisak dan terluka acapkali orang tuaku mulai menuduhku mengikuti aliran sesat atau ekstrimis.

Bebarengan dengan itu, tiba-tiba aku segera mendapatkan SMS dari akademik melalui SIT (Sistem Informasi Terintegrasi) Fakultas yang menginfokan, kuliah yang harusnya tanggal 1 Februari mundur menjadi 9 Februari. Aku mulai merasa saya bisa pulang, aku lalu segera melihat-lihat harga tiket kereta dan pesawat. Biar lebih hemat, mungkin aku bisa coba naik kereta ke jakarta dan dari Soeta bisa naik pesawat ke Palembang. Aku malah segera ke lempuyangan, membeli tiket ekonomi (sampai ingin berhematnya) ke Jakarta. Dengan kenekatanku dan tanpa meminta izin dulu sama ummi maupun musyrifah asrama.

Kemarin malam aku menelpon mama, benar saja aku segera dikejar pertanyaan tentang Gafatar dan setelah aku jelaskan pelan-pelan, baru kemudian aku ceritakan niat untuk pulang dan jalur transport yang aku pilih. Aku mendengar nada bahagia (yang kemudian membuatku aru), dan mama segera menyuruhku untuk langsung berbiacara dengan papa tentang rencana kepulangan.

Dari ujung telpon terdengar Papa tampak kaget  tapi  aku  lebih kaget lagi ketika mendengar jawaban dari ayah saya, "Udah sebut aja, mau pulang tanggal berapa dan balik ke jogja tanggal berapa, nanti langsung Papa cariin tiket pesawat," katanya dengan nada kaku seperti biasa. "Eh? Tapi kakak sudah beli tiket kereta ke jakarta. Cuma 82.500 sih, naik progo" aku menjawab cepat dengan agak terpana. "Heeh, bahayalah anak gadis naik kereta api sendiri, udah naik pesawat aja". Aku kemudian hanya bisa menurut, dan kurang dari satu jam aku sudah dikirimkan kode booking pesawat oleh laki-laki paling tampan sedunia itu. Akhirnya dengan perasaan ketar-ketir, karena belum mendapatkan izin dari musyrifah asrama, aku akan pulang.

***

Tepat tadi siang, aku kembali membuka sebuah grup yang tiba-tiba rame ketika ada yang nanya 'sudah pada pulang?'. Iseng kemudian aku menceritakan sedikit kronologis dan kepulangan yang tidak disengaja akan terjadi. Semua berjalan biasa, sampai ada orang -yang biasanya selalu ngeselin dimanapun haha- tiba-tibu muncul dan ikut komentar 'Pulanglah. Pulang aja, selagi ada kesempatan pulang'. Dan aku terdiam cukup lama.

Sederhana sih sebenernya, dia juga ngetik itu asal ngetik tanpa pemikiran yang panjang atau niat untuk membuatku terkesan. Tapi kata di ujung kalimatnya benar-benar menyadarkanku. Pulang aja, selagi ada kesempatan. Kesempatan. Iya, kesempatan. Karena tidak semua orang punya kesempatan pulang. Aku jadi teringat seorang teman dari fakultas geografi yang rumahnya di NTT, sudah dari tahun lalu dia belum bisa pulang, bahkan ketika idul fitri kemarin. Sejak kepergiannya ke Jogja untuk kuliah, sampai hari ini dia juga belum bisa pulang. Kubaca lagi kalimat sederhana itu, dan air mataku menetes.

Aku sering lupa, bahwa harusnya aku bersyukur. Dengan segala nikmat yang diberikan oleh Allah, kalau libur mau pulang, ya orang tuaku bisa dengan mudah langsung bilang iya, dan aku bisa pulang. Jadi semacam teringat sebuah pepatah yang cukup terkenal; we busy growing old, and forget our parent getting old. Kenapa aku sempat sebodoh itu ya? Siapa yang menjamin dengan umur, apakah benar aku bisa bertemu dengan kedua orang tuaku lengkap di semester depan? Siapa yang menjamin rezeki, apakah iya semester depan orang tuaku masih punya cukup uang untuk membiayai transport kepulanganku?

Dan lagi, sebagaimana seorang anak perempuan harusnya aku juga mikir. Bahwa nanti ketika aku sudah menikah, aku akan sepenuhnya menjadi istri dari suamiku. Lalu siapa yang bisa menjamin, jika nanti ternyata takdirnya aku menikah dengan seseorang yang tidak tinggal di kampung halamanku? Maka harusnya, sebagai seorang yang statusnya masih dalam tanggungan orang tua, aku harus lebih banyak berbakti total kepada mereka, membahagiakan mereka.

Mengutip dari buku yang ditulis Moh Fauzil adhim, ternyata menyenangkan orang tua -khususnya ibu- lebih diutamakan dari berjihad untuk menegakkan agama Allah. Dalam hadits dituturkan seperti ini:
Dari Abdullah bin Umar, seorang laki-laki mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam kemudian berkata kepada beliau, "Saat aku berbaiat kepadamu untuk hijrah, aku tinggalkan kedua orangtuaku dalam keadaan menangis."
Rasulullahi 'alaihi wa sallam berkata," kembalilah kepada kedua orang tuamu dan perlakukanlah mereka berdua hingga tertawa gembira sebagaimana engkau telah tinggalkan dalam keadaan menangis." (HR. An-Nasa'i)
Dan tekadku semakin bulat, aku akan pulang!


16.07 PM
Yogyakarta, 13 Januari 2016
(c) Giovanny Putri Andini

Sabtu, 21 November 2015

Ujian


Pelaut tangguh hanya dihasilkan dari badai ombak yang besar. Malam paling gelap selalu mempunyai bintang dengan sinar paling terang. Kita bisa menganalogikan sesuatu dengan aksara yang paling indah. Kita bisa merangkai kalimat-kalimat indah pemberi semangat atau mungkin juga motivator paling bijak untuk orang lain. Kenyataanya, kita selalu kepayahan untuk menghibur diri sendiri. Sikat memang bisa membersihkan banyak hal, tapi ketika kotor, dia tidak bisa membersihkan dirinya sendirinya.

Kalau hidup haruslah menaiki tangga untuk mencapai puncak tertinggi, maka kita harus siap dengan segala akselarasi yang mungkin akan kita temukan di perjalanan agar kita segera sampai ke tujuan. Mungkin memang tiba saatnya kita mendapat kesempatan untuk menaiki lift, tapi ini menjadi istimewa ketika ternyata kita harus berada dalam lift sendirian dengan ribuan ular di dalam sana. Lagi-lagi, kemampuan survival kita diuji. Pilihannya cuma dua, berjuang dan bertahan atau menjadi lemah lalu mati di tengah jalan. Sebab di dalam lift gelap, kita tidak bisa menemukan jalan untuk kabur dan keluar.

Tapi manusia memang paling pintar mendramatisasi seusuatu. Membesar-besarkan hal kecil. Untuk sesuatu yang bukan apa-apa, kita bisa menangis di pojokan merasa kitalah yang memiliki kisah paling pilu dan sedih sedunia. Untuk apa-apa yang hilang, kita mampu meratapi sepanjangan dan merasa bahwa kitalah manusia yang paling menderita. Kita memang makhluk paling lucu. Mengutip kalimat Yassir Muchtar; jangan-jangan kita sering salah bangga. Merasa telah berjuang menghadapi ujian yang berat, padahal sesungguhnya kita hanya  berurusan dengan masalah yang tercipta akibat kebodohan kita sendiri. Jangan-jangan, selama ini, kita belum pernah bertemu ujian yang sesungguhnya, karena kita belum keluar-keluar dari kebodohan kita sendiri. Atau, justru kita telah bertemu dengan ujian yang sesungguhnya? Ujian paling berat dari segala ujian? Ya, ujian melawan kebodohan kita sendiri.

Maka jiwa-jiwa yang merasa lelah, bangunlah! Kelelahanmu tak sebanding apa-apa, dengan kelelahan yang dirasakan para mujahid yang memperjuangkan kalimat tauhid dengan penuh darah. Maka jiwa-jiwa yang terbuai dalam lalai, sadarlah! Kau tidak punya pilihan selain bergerak atau tergantikan.

Atau setidak-tidaknya, janganlah lelahmu membuat orang lain lelah. Janganlah kelalaianmu, melalaikan orang lain. Janganlah kesusahanmu, ikut menyusahkan orang lain. Membangun peradaban adalah sebuah kerja besar. Mundurlah, yang ingin mundur. Gugurlah, yang ingin gugur. Sebab dari dulu sejarah selalu mengabadikan, bahwa orang-orang berjiwa lemah memang hanya menjadi penghambat di jalan dakwah.

Yogyakarta, 22 November 2015.
Giovanny Putri Andini.


Minggu, 08 November 2015

Hati

Perempuan itu berlari, seperti orang gila berteriak-teriak histeris tak tentu arah. Kakinya berlumuran darah, entah karena jatuh di tempat tadi atau karena sudah terlalu jauh berjalan. Syaraf-syarafnya entah sejak kapan telah mati, sakitnya tak lagi ia rasakan.

"Dimana Tuhan? Aku harus bertemu Tuhan! Siapapun, beri tahu aku dimana Tuhan!" Teriakan sengau perempuan itu, setiap kali bertemu dengan orang di jalan. Pertanyaan yang sama dan menyedihkan. Tak berubah.

Seseorang dengan iba untuk pertama kalinya bertanya kepada perempuan itu, "Kenapa kau ingin bertemu Tuhan, wahai nona? Kenapa kau mencari Tuhan?"

"Tentu saja, karena aku ingin bahagia. Ada banyak sekali pertanyaan di kepalaku yang ingin aku tanyakan langsung. Aku harus tahu dimana Tuhan. Aku harus bertemu dengannya!" jelasnya cepat. Air matanya masih terus mengalir.

"Sayang sekali aku tidak bisa membantumu memberi jawaban yang jelas tentang keberadaan Tuhan. Hanya saja yang sering aku dengar, Tuhan tidak pernah pergi kemana-kemana, dia bisa dengan mudah kau temui dengan bersujud. Ah ya, mungkin kau harus perbanyak sujud, nona.." ucapnya agak ragu.

"Hanya dengan bersujud?" pelan sekali, wanita itu memastikan sebelum kemudian orang itu menjawab lagi, "Ya, tentu saja dengan menyertai hatimu saat bersujud."

Langkah wanita itu terhenti, tiba-tiba dia tertuduk ke lantai. Kakinya tak lagi mampu menopang tubuhnya. Badannya gemetar, mendengar penjelasan orang itu, "TIDAAAAAAK, MAKA CELAKALAH AKU. C-E-L-A-K-A. Aku tidak akan bisa bertemu Tuhan. Tidak pernah! Sebab aku sudah tak punya hati lagi. Aku tidak punya hati lagi..."





Giovanny Putri Andini, ditulis dengan rasa sedih saat sedang bolos kelas asrama.
Yogyakarta, 9 November 2015
6:10 AM

Senin, 06 April 2015

Kunang-kunang dan Debu

Kunang-kunang itu meredup, kehilangan cahayanya. Hanya menunggu waktu saja, sebentar lagi mungkin dia akan mati. Kunang-kunang memang hanya ada ketika gulita, kala siang datang dia hilang. Terlupakan.

Debu itu berterbangan, melewati tiap partikel udara, menempel di berbagai tempat, berkelana melihat dunia. Namun saat air atau mungkin sabun mengenainya, dia musnah. Lenyap begitu saja dengan magis. Kehadirannya memang tidak pernah diharapkan apalagi dikenang. Keberadaannya ada hanya untuk kemudian dienyahkan.

Aku tidak tahu, apakah aku adalah kunang-kunang yang merasa bosan di tempat gelap. Atau sekedar debu yang tinggal menunggu waktu akan hilang. Yang aku tahu dari keduanya adalah; aku sangat kecil dan tak berdaya. Aku rapuh dan lemah. Berkalipun aku bilang kuat, aku tidak bisa membohongi fakta bahwa diriku merasa sangat menyedihkan.

Tuhan, ampuni hamba-Mu ini yang tidak bisa bersyukur. Maafkan aku yang merasa sedih, untuk hal yang aku sendiri tidak mengerti. Rasanya hanya hampa, ada yang menganga kosong di hati dan membuat pilu. Tidak peduli seberapa sibuknya diriku, kelelahan-kelelahan ini tidak cukup membantu lagi seperti dulu.


Ketika sujud tak kunjung menjelma syahdu, maka aku hanya bisa tergugu.


Mungkin aku memang sudah terlalu jauh.


(c) Giovanny Putri Andini
Perpustakaan UGM, 6 April 2015
3.06 PM