Minggu, 14 Desember 2014

Ini Curhat (Part 2)

Sabtu, senja, gerimis, mereka.

Aku agak mempercepat langkah kakiku yang menciptakan cipratan kecil dari genangan air yang kuinjak. Langkahku yang cukup besar dan cepat mendahului gravitasi air yang jatuh dari langit. Nafasku agak memburu. Katanya penghitungan final sudah selesai. Di sisiku mbak Syari juga ikut menyamakan langkah, berdua kami merapat di bawah jaket hitamnya agar tidak basah terguyur hujan. Meski sebenernya percuma, karena kaos kaki kami sudah benar-benar basah kuyup oleh genangan-genangan air di tanah.

Sejak kemarin jantungku benar-benar dipaksa untuk memompa darah lebih cepat. Dua hari yang lalu tepatnya, setelah -Alhamdulillah- menyelesaikan penghitungan suara Pemira Fakultas dan itu artinya tugas menjadi panitia KPRM selesai, detik-detik penghitungan suara Presma membuatku menjadi semakin gelisah dan deg-degan. Pasalnya, sudah banyak yang aku lakukan dan korbankan untuk pemilwa ini. Dan aku merasa, dengan amanah #AhSudahlah, aku bertanggung jawab atas kemenangan calon nomor enam itu.

"Gimana? Gimana?" Aku bertanya sedikit cepat, setelah  menepi dan mencari tempat yang tidak basah untuk duduk. Kami berteduh di teras sebuah rumah (atau mungkin gudang) kosong di samping B-19 tempat penghitungan suara.

Malam sebelumnya sebuah kecemasan benar-benar menghantui tidurku, karena hasil penghitungan sementara Mas Satria tertinggal 200-an suara setelah penghitungan di beberapa TPS. Penghitungan oleh KPUM terus berlanjut sampai jam 4 dini hari. Dan setelah cuma mampu tidur beberapa jam, lalu terbangun jam 3.30, mengambil wudhu sholat dan tillawah sebentar sampai subuh, baru aku beranikan untuk membuka hp dan melihat live report dari grup. Ini yang membuatku terharu, ikhwan-ikhwan pejuang LSP dari Partai Bunderan tidak tidur demi mengawal suara dan mencatat tiap turus suara yang masuk satu-persatu. Bergantian.

Dan hasilnya ternyata berbalik, meski selisih tidak mencapai 100 tapi suara mas Satria sudah memimpin lagi. Ada girang dan bahagia yang aku rasakan. Maka cepat-cepat aku mengikuti instruksi dari mbak Indri di grup. Penghitungan suara akan dimulai lagi dari jam 7 pagi, giliran akhwat-akhwat segera merapat ke B-19 untuk menjadi saksi Bunderan untuk penghitungan suara.

Maka disinilah aku senja ini, ditemani gerimis melihat wajah-wajah kelelahan kakak-kakak yang sudah mengorbankan banyak hal untuk pemilwa ini. Bertanya lagi dengan polosnya setelah kembali sholat Ashar bersama mbak syari di maskam, dan sejak pagi menggembel dengan menggelar bahilo untuk diduduki di pinggir jalan bersama, bergantian membuat shift bersama kakak-kakak ini untuk masuk ke B-19 mengawal penghitungan suara. "Gimana hasilnya? Udah keluar lagi yang terbaru?"

Tepat setelah aku bertanya, mas Arfan dan mas Ridwan datang dengan sedikit tergopoh ke tempat kami semua berteduh. "Udah fix! Udah selesai!" kata mas Ridwan dengan agak cepat. Kepala kami semua langsung tertuju kepada mereka. Menunggu kira-kira kejutan apa yang akan keluar dari kalimatnya setelah ini. "Satria menang dengan suara 4564, fakhry 4290!" Duniaku menjadi agak sedikit terang. Mbak Indri menangis, bahkan kulirik mas satria juga gemetar menghapus air mata di pelupuk matanya. Semuanya terharu. Aku sendiri, satu-satunya yang paling kecil disini sebenarnya tidak tahan melihat drama yang entah berakhir atau malah menjadi awal yang begitu menyentuh.


***

Malam, laptop, komsat, mereka.

Besok aku masih ada kuliah pagi, tapi aku masih disini meski adzan isya sudah sejak tadi berakhir. Berkutat dengan laptop dan mencoba mencari dan menuangkan inspirasi dalam kultwit yang kusimpan di draft untuk nanti ditwit di akun #AhSudahlah. 

Komsat benar-benar ramai dan sibuk malam ini, pasalnya hari ini pengumpulan terakhir berkas untuk casenat partai dan casenat independen. Lembaran-lembaran kertas, map, membuat komsat yang kecilnya menjadi lebih sempit. Aku yang kehilangan inspirasi dan semakin suntuk melihat kesibukkan orang-orang disini membuka hp dan melihat-lihat grup yang tidak pernah sunyi dengan celoteh anggota-anggotanya. Aku membuka grup FKT Psikologi 2014, salah seorang anggota di grup dibully dan mereka sedang seru-serunya bercanda dan tertawa disana.

Jemariku cepat menari mengirim beberapa kalimat ke grup itu, "Capek. Masih di komsat. Aku mau pulang, tapi belum boleh pulang kalo kultwitnya belum selesai." Aku menghela nafas, melihat sekelilingku. Lalu kembali mengirim emot kelelahan dan emot menangis. Menunggu respon dari mereka.

"Biar lelah, asal Lillah!" kata Rahmi. "Maleeem banget Giooo. Hati-hati ya, disana kamu bukan akhwat sendirian kan?" tanya yang lain. Aku mengangguk pelan. Kembali mengetik bahwa disini masih rame akhwat, pulang nanti aku juga insyaAllah ga sendirian. Aku diam sebentar sebelum akhirnya sebuah pesan masuk lagi dari anggota grup yang lain. Mereka kembali membuka obrolan baru dan tertawa-tawa bahagia. Melupakan aku sendirian di komsat.

"Gio, udah selesai dek?" tanya mbak Ratri yang membuatku segera mengalihkan pandangan dari hp. Aku menggeleng. "Jangan lama-lama gio. Nanti kamu pulangnya kemaleman." Mas Budi menambahkan. Aku mengangguk cepat-cepat dan segera memfokuskan ke laptop. Iya, harusnya aku segera menyelesaikan ini bukan malah bersedih-sedihan di grup.

***

Siang. Kampus. Poster.

Setengah berbisik, Pras memanggilku untuk sedkit mendekat kepadanya. Aku berjalan pelan. Dikeluarkannya bergulung-gulung poster dengan agak besar dari dalam tasnya. "Dapet dari mana? Komsat?" bisikku setengah berteriak. Pras mengangguk. "Ditempel ya gio, kamu cari spot-spotnya," lanjut Pras tanpa rasa bersalah. "Kagak mauuu! Enak aja main perintah orang. Aku kan cewek, kamu tegaa banget sih!" kali ini suaraku agak keras.

Tapi Pras masih bergeming di tempatnya, "kan kamu korfak, aku cuma bantuin ngambil poster. Hari ini pokoknya poster harus udah di tempel di Psikologi. Yaudah kita bagi aja posternya, yang ini kamu tempel sendiri ya." Pras melanjutkan dengan pelan. Aku terima poster itu dengan bingung dan perasaan yang teraduk-aduk.

Aku mengirim pesan, kepada salah satu kakak tingkat. Masih tidak ada respon. Dengan agak malas aku berjalan ke kantin. Mahasiswa baru, masih bocil sendirian diliatin orang-orang nempel poster capresma di kantin. Antara kesal dan acuh. Entah stigma negatif apa yang ada di pikiran orang-orang. Hari ini aku putuskan untuk keluar dari persembunyian di balik kata "amniyah". Terserah penilaian orang apa. Berapa hari sebelumnya juga aku sudah terang-terangan meminjam dengan mengumpulkan KTM teman-teman angkatan, bahkan kakak tingkat di fakultasku. Dengan jujur dan apa adanya aku bilang aku ingin membantu salah satu calon biar bisa maju menjadi capresma.

"Kamu ikut partai mahasiswa, dek?" seorang kakak tingkat mendekatiku yang sedang menempel poster. Aku menggeleng, agak terbatuk karena asap rokok yang dikepulkannya terhirup. "Enggak, aku bantuin aja. Aku kenal dengan capresmanya, mas Satria," aku menjelaskan. Orang itu hanya manggut-manggut tidak peduli. Aku melirik sekelilingku, dan merasa sendirian. Kemana orang-orang fakultas yang membuat berada di posisi ini? Sendirian dan merasa aneh. Lagi-lagi hari ini aku jadi ingin menangis.

***

Laundry, kampus, terik.

Aku baru keluar kelas saat mendapati sebuah panggilan masuk. Dari mas Satria, aku mengerutkan kening sebelum mengangkatnya. "Assalamu'alaykum, Gio ada kuliah, dek?" tanya mas Satria cepat. "Wa'alaykumussalam, barusan selesai. Kenapa?" agak heran aku ikut bertanya. Seingatku hari ini dan sekarang sedang jadwal Tour De Faculty-nya.

"Ke komsat sekarang, ambil baju mas di ruang tamu masukin ke laundry yang sehari jadi bisa?"

"Hah? Sekarang banget?"

"Iya, kan besok mau dipake buat TDF di Mipa. Gak ada baju lagi nih. Tolong ya, bisa kan?"

Aku menimbang sebentar sebelum mengiyakan dan panggilan langsung terputus. Matahari sedang terik saat itu. Fakultas Psikologi dan Komsat yang berada di jakal km 5 itu sebenarnya cukup jauh menurutku. Kenapa aku yang disuruh? Gara-gara aku yang paling kecil dan paling enak diminta tolong? Batinku kemballi menggerutu saat melangkahkan kaki untuk mengambil motor yang terparkir rapi di lembah.

Aku duduk di atas motor sebelum melirik ke atas. Cuaca memang sedang menggila, kadang hujan lebat dan kadang bisa panas begitu ekstrim. Siapa tahu, mungkin sebentar lagi gantian aku yang menggila.

***

Debat. Rindu. Pulang.

"Giooo.." Mbak Indri memanggilku tepat ketika aku keluar dari musholla hukum. Hari ini sedang ramai debat capresma di Fakultas Hukum. Aku tersenyum, mendekat dan menyalami mbak Indri. "Itu ada ibunya mas Satria loh," kata mbak Indri yang menunjuk sesosok wanita tua yang duduk di depan mushollah memakai sepatu bersama mbak Ratri. Aku segera berlari mendekati wanita tersebut, mengangguk sopan dan sungkem mencium tangannya. Wanita ini adalah sosok yang paling sering diceritakan oleh mas Satria, akhirnya aku bisa bertemu dengannya.

"Waaah, siapa ya?" tanya wanita tersebut dengan senyum.

"Saya Gio bu, Psikologi 2014, yang bantuin mas Satria buat nyebar-nyebar pin, leaflet profil mas satria, nempelin posternya hehehe," aku tertawa kecil.

"Waaaah, terima kasih ya nak sudah membantu banyak," wanita tersebut tersenyum. Jika boleh berlebihan, maka akan aku katakan bahwa aku tak pernah melihat senyum yang lebih tulus dari pada itu.

Ya, aku tau mas Satria sedang sakit namun memaksakan diri untuk datang berdebat. Ibunya pun memaksakan diri datang dari purworejo ke Jogja mendengar kabar sakit itu. Diam-diam, ada yang pilu di hatiku. Aku rindu ibuku di Palembang. Aku juga sekarang sedang sakit. Aku ingin pulang
 
 
***

Kembali lagi. Senja. Hujan. Mereka.

Aku kini ikut mengerjap-ngerjapkan mata, menahan bulir air mata bisa tumpah. Sekarang mengambil posisi duduk di samping mbak Indri. Mbak Indri, "Ya Allah, Gioo... tahun depan kamu harus lebih keren!!" aku hanya diam saja, tak tahu harus membalas apa. Bagaimana menjelaskan suasana yang lebih mengharu biru dan sesyahdu itu?

Tiba-tiba secara dramatis semua kenangan dua bulan bersama mereka berputar dengan sendirinya. Rapat-rapat di FKG, Balairung, Komsat, mengumpulkan KTM, menempel poster, launching Bersama UGM, blusukan dari pagi sampai sore SOSHUM, MIPA, GEO, masuk ruang-ruang kuliah FAKES untuk bagi-bagi leafloat dan amunisi kampanye saat mas Satria sedang mensosialisasikan dan memperkenalkan dirinya. Sampe harus tahan telinga saat temen-temen angkatan di forsalamm bilang, "Gio sekali-sekali merakyat dong ikut acara angkatan, gaulnya sama petinggi lembaga dan angkatan tua terus...." Padahal mereka juga tidak pernah tau, aku sudah seperti kerja rodi tiada henti disini.

Tapi sungguh, berjuang bersama mereka bukan sesuatu yang perlu disesali. Aku temukan keluarga, aku temukan pengalaman, aku temukan cinta dari perjuangan yang melelahkan ini. Kemarin aku pernah menangis, bertanya "kenapa harus aku?" Dan Allah memang memilihku untuk bisa belajar lebih cepat dari orang-orang kebanyakan. Keluguanku terakselerasi, dan pengalaman-pengalaman ini membuatku belajar lebih cepat dan menemukan banyak prespektif dan pandangan baru. Sesuatu yang tidak akan kudapatkan di ruang-ruang kuliah dan slide-slide yang dipaparkan dosen. Pengalaman selalu memberi banyak hal untuk mendewasakan dan meningkatkan kapasitas diri. Dan kesempatan adalah sesuatu yang tidak ternilai harganya.

Mas Satria menangkapku yang memandanginya. Aku kikuk. "Mas Satria!!! Semangaaaaat!! Jadi timses ternyata seru yaaaa hahaha" kataku mengucek-ngucek mata. Mas Satria hanya balas tertawa kecil.

***

" Gio kamu harus sering-sering disuksi sama kakak-kakak ini, sering-sering main sama temenmu. Kamu keren loh, dua tahun lagi hasil dari akselerasi kamu ini baru akan keliatan.."

"Aku mah apa? Cuma remahan sterofom, ditiup juga hilang..."

"Hahaha dasar bocil, tapi jangan polos dan lugu-lugu amat ya, nduk.."

Dan aku tahu, ibarat perjalanan kapalku baru saja mengangkat jaring dan bergerak meninggalkan pelabuhan. Ini bahkan belum setengah jalan, belum bertemu ombak, digulung badai dan semua rintangan besar yang akan membuat seorang pelaut menjadi bertambah tangguh jika dia mampu bertahan. Semua hal-hal menyebalkan dan mengharukan diatas belum apa-apa. Tarik nafas panjang-panjang, dan buka mata lebar-lebar. Perjalanan sesungguhnya, baru akan dimulai.

Jogja, 14 Desember 2014
- Giovanny Putri Andini, sebuah curhat.
11:05 PM


Selasa, 02 Desember 2014

Ini Curhat (Part 1)

Seminggu yang lalu aku nangis. Rasanya capek, sedih, kesel semuanya numpuk jadi satu. Parahnya lagi aku merasa sendirian dan aku merasa jadi maba paling sial karena harus menanggung semua ini. Mungkin bawaan futur juga, astaghfirullah..

Ditunjuk jadi panitia KPRM di fakultas, ga tau gimana cerita dan prosesnya. Tiba-tiba dapet jarkom sms diajak rapat. Menjadi salah satu dari sepuluh panitia KPRM untuk pemilihan ketua Lembaga Mahasiswa (LM) Psikologi (di fakultas kami ga ada lembaga atau badan ekskutif), padahal aku sendiri bukan anak LM.

Ini sama halnya ketika beberapa bulan lalu aku dapet sms terus diminta ke fkg malem-malem, dan ternyata tiba-tiba ditunjuk dan diserahkan amanah... #AhSudahlah.

Aku udah jelasin sama temen-temen KPRM, bahwa aku akhirnya mengaku, juga udah lebih dulu dapet amanah #AhSudahlah di univ yang pasti bakal sibuk banget. Masalahnya lagi, kedua amanah ini juga memang harus diselesaikan di waktu yang berdekatan. Tapi mereka bilang, "Ya, kamu pasti bisa profesional dan bersikap sesuai tempat. Kamu kan ga sendirian, ada kami juga yang bantuin kamu disini."

Huffffft.......

Katanya amanah gak pernah salah memilih pundak. Katanya anggap saja ini bentuk jihad kita yang pasti akan dibalas Allah. Aku minta Allah kuatkan, tapi ternyata malah Allah kirimkan masalah agar aku bisa menjadi (mungkin) yang paling kuat :'''

Teman yang harusnya berjuang bersama tiba-tiba malah menghilang di saat sedang sibuk-sibuknya. Karena mungkin aku yang paling muda di #AhSudahlah, aku jadi korban sendirian di terror terus sama atasannya. Padahal kan aku memang ga ngerti, yo jangan nyalahin aku, kenapa juga milih aku...... dan di fakultas juga masalahnya aku punya posisi, dan aku punya amanah yang lebih besar dari orang tua buat kuliah. Dan saat itu aku ngerasa ga ada yang mau nolongin, semuanya ninggalin aku dengan beban yang bertumpuk-tumpuk ini.

Seringnya aku bertanya sendiri, kok bisa aku di posisi ini. Sedang aku melihat temen-temenku yang masih ketawa-ketawa, mencoba beradaptasi dan mengamati untuk belajar medan yang akan segera mereka hadapi... aku udah lebih dulu terseret ombak dan dihempas badai. Aku tau ini berlebihan, tapi aku cemburu sama temen-temenku yang mereka bisa main-main tanpa harus mikirin ini dan itu. Pikiran-pikiran konyol layaknya anak kecil.

(bersambung....)

Sabtu, 29 November 2014

Jatuh Cinta dan Mencintai

"Jatuh cinta dan mencintai adalah dua hal yang berbeda," kalimatku terhenti. Sejenak berpikir sebelum melanjutkan kalimat. Semua pandangan tertuju kepadaku. Sebenarnya aku gugup, penulis favorit yang sempat membuatku patah hati dengan kabar pernikahannya beberapa bulan lalu, duduk di depan sana menunggu jawabanku.

"Jatuh cinta adalah kondisi yang terjadi, sebuah perasaan yang datang di luar kendali kita..." mataku menoleh ke ujung sana. Memandangi istrinya yang cantik dengan jilbab lebar berwarna biru.

"Sedang mencintai adalah sebuah keputusan, sebuah pilihan. Saat kita mencintai, itu artinya kita memutuskan untuk melakukan sesuatu: merawat, menjaga dan menumbuhkannya menjadi lebih baik. Ketika seseorang mengatakan aku mencintaimu, itu artinya dia memutuskan untuk melakukan peran itu seumur hidup. Mencintai itu adalah pilihan, sedang jatuh cinta bukan sesuatu yang bisa dipilih. Seseorang bisa jatuh cinta di luar kontrolnya, tapi dia juga bisa memutuskan untuk tidak mencintai sehingga rasa itu kemudian hilang dan meluap begitu saja. Sebaliknya seseorang wanita misalnya, dikhitbah oleh lelaki yang tidak dikenalnya, tapi wanita tersebut bisa memutuskan untuk menerima khhitbahannya bisa saja memutuskan untuk mencintainya."

Tepuk tangan terdengar riuh rendah. Aku kembali duduk di tempatku. Nasib sial, resiko duduk di depan sekali kita memang harus siap menjadi yang terlihat dan korban dari pertanyaan moderator bahkan pembicara. Aku kembali menoleh kepada wanita yang duduk di ujung sana. Dia tampak bahagia, duduk di bangku paling depan, dengan tab yang sibuk mendokumentasikan suaminya yang sedang menjadi pembicara talkshow kepenulisan di kampusku. Dia tampak bahagia. Aku tersenyum.

***

Kemarin mendapat undangan pernikahan. Rasanya sangat bahagia. Mungkin karena aku masih kecil dan masih jarang dapat undangan pernikahan. Setiap kali mendapat berita tentang pernikahan dari mereka yang melalui proses-proses yang benar, rasanya selalu sama... hatiku selalu sesak oleh haru. Terlebih pagi tadi -tepat sebelum mendatangi acara talkshow kepenulisan ini-, mr-ku menyampaikan berita tentang walimatul 'ursy-nya kepada kami saat sedang liqo' tadi. Jadilah kami binaannya teriak-teriak girang, mataku sampai berkaca-kaca. Kabar bahagia datang secara bergantian. Membuat pertanyaan yang segera aku tepis jauh-jauh bermunculan, "kapan giliranku berbagi kabar bahagia yang serupa?"

Berasal dari keluarga awam yang tidak mengerti pernikahan secara islami, membuatku dari SMA sudah mencoba mengajak diskusi ibuku tentang pernikahan yang diatur dalam islam. Jadi ingat sekitar setahun atau dua tahun lalu, pelan-pelan aku mencari celah untuk membahas pernikahan dan kemudian mencari momen yang tepat untuk bilang, "Kakak nanti nikahnya gak mau pake pacaran loh, ma...."

Kalau ingat saat-saat itu, aku selalu ingin tertawa. Bagaimana aku malu-malu dan ceplas ceplos membahas pernikahan dengan ibuku. Ibuku waktu itu kaget, memandangi mataku lamat-lamat tidak mengerti. Pelan-pelan aku mencoba menjelaskan dan memahamkan tanpa ada maksud menggurui. Aku pernah membaca di sebuah buku, jika mempunyai orang tua -yang tidak paham-, harus jauh-jauh hari dikomunikasikan tentang pernikahan yang kita inginkan. Agar nanti mereka tidak kaget, jika ada laki-laki asing, yang bahkan tidak dikenal putrinya sendiri meminta anak gadis mereka untuk dijadikan istri.

Tiba-tiba sadar, sekarang sudah kuliah dan (((mungkin))) waktu yang diberikan Allah untuk menjomblo tinggal dalam hitungan tahun. Wah, harus segera menikmati waktu-waktu kesendirian ini dengan sebaik-baiknya, dengan ilmu sebanyak-banyaknya. Maksimalkan bakti kepada orang tua, karena nanti setelah menikah suami menjadi yang paling utama untuk apapun.

Kalau membaca tulisan blog ini dan kalian kira aku sedang galau, sebenarnya kalian salah. Kebetulan saja dapet undangan pernikahan dalam waktu dekat dan jadi cuma kepikiran tulisan ini untuk ditulis. Sejujurnya aku sendiri pernah membayangkan, bagaiamana jika saat ini ada laki-laki yang datang ke orang tuamu dan memintaku untuk menikahinnya? Waaaaaaaaaaaaah, gak kebayang... gak mauuu... gak mauu... belum siap. Ternyata aku masih ingin menikmati kebebasan dan kebahagian juga keceriaan ini. Lalu inget lagi bahasan waktu jalasan ruhiyah, yang aku sendiri lupa temanya apa, kami disuruh membayangkan hal-hal yang buruk dan tidak enaknya saat menikah. Tiba-tiba aku jadi melihat pernikahan sesuatu yang mengerikan. *dasar manusia labil* >,<

Lalu meneumukan tulisan yang bisa jadi renungan kita bersama,

Berhentilah kawan. Berhentilah untuk mengkorelasikan pernikahan dengan kegalauan. Berhentilah, saya mohon. Karena pernikahan (bagi saya) adalah tentang sebuah cita-cita agung yang harus kita siapkan sedari sekarang.

Berhentilah teman. Berhenti untuk menghubungkan pernikahan dengan kelabilan.

Berhentilah, saya mohon. Karena jika saja engkau tahu, betapa bangganya orang-orang diluar sana dengan sistem pacarannya, lantas mengapa kita tak bangga dengan sistem pernikahan yang telah diatur dalam islam? Kenapa harus, justru kita lah (kaum muslim) yang ‘menjatuhkan’ makna pernikahan itu sendiri?

Bagi saya..Pernikahan adalah tentang bagaimana engkau harus mengeja a.. ba.. ta.. tsa agar kelak keluarga yang engkau bangun adalah keluarga yang dinaungi cahaya Al-quran.

Pernikahan adalah tentang bagaimana engkau harus berpayah-payah masuk ke dapur, lantas bersahabat dengan segala pernak-pernik didalamnya agar kelak engkau bisa memberikan nutrisi terbaik untuk mereka para penerus peradaban.

Pernikahan adalah tentang ilmu, tentang bagaimana engkau harus membolak-balik buku tentang psikologi lelaki dan perempuan, tentang perkembangan pada anak, tentang rumah tangga para Shahabiyah..

Pernikahan adalah tentang bagaimana engkau harus mengurangi konsumsi makanan dan minuman yang kurang sehat sekalipun engkau sangat ingin mengonsumsinya. Karena engkau tahu, engkau harus menyiapkan rahim yang kuat agar terlahir tujuh atau bahkan sepuluh para mujahid dan mujahidah.

Pernikahan adalah tentang bagaimana engkau harus menabung seperak demi seperak agar kelak engkau mampu memberikan nutrisi dan pendidikan terbaik untuk para pewaris kejayaan islam..Pernikahan adalah tentang bagaimana engkau harus belajar melunturkan ego, agar perahu yang akan dibawa bersama kelak tak karam di tengah jalan.

Pernikahan adalah tentang bagaimana engkau menyembunyikan keluhan dan menutupi kelemahan, pada mereka yang yang perlu penguatanmu..

Itulah mengapa..  seorang Habibie membutuhkan ‘Ainun untuk menciptakan sebongkah pesawat terbang pertama di Indonesia, itulah mengapa Rasulullah membutuhkan Khadijah untuk mengemban amanah dakwah yang tidaklah mudah.. itulah mengapa dibalik lelaki yang hebat selalu ada perempuan yang kuat..

Pernikahan adalah tentang bagaimana engkau belajar untuk menjadi ibu, untuk menjadi istri, untuk menjadi menantu, untuk menjadi kakak ipar, untuk menjadi adik ipar, untuk menjadi sahabat, untuk menjadi….

Karena pernikahan adalah tak sekadar penyatuan dua insan, melainkan penyatuan dua keluarga besar. (Rochma Yulika)

Ahh, tulisan yang benar-benar membuatku tersadar, terlalu prematur bagi seorang Giovanny Putri Andini yang KTP aja belum punya menggalaukan nikah hahahaha (memang siapa yang galau?).

Jatuh cinta dan mencintai itu dua hal yang berbeda. Dan aku memutuskan untuk tidak akan mencintai siapapun lagi selain laki-laki yang akan menjadi ayah untuk anak-anakku. Insyaa Allah! :)

- Giovanny Putri Andini, another coretan absurd di tengah malam
Yogyakarta, 30 November 2014
12.01 AM



Selasa, 11 November 2014

Ceritonyo..

Aku kangen ngomong pake bahaso palembang. Dakpapolah tulisan kali ini pake bahaso palembang. Kelamoan di Jogja, madak nian aku malah asing samo bahaso dewek. Gara-garanyo waktu aku ketemu kawan dari Palembang dan mereka ngajak ngomong pake bahaso palembang, aku malah kepayahan nak bales omongan mereka. La biaso ngomong pake bahasa Indonesia, cakmano lagi kan? :(

Jogja memang beda nian samo Palembang. Disini uong-uongyo ramah, kemano-mano kenal dak kenal pasti ado bae yang senyum samo kito. Kalo di Palembang nemu yang cak itu jarang. Makanannyo jugo beda samo makanan Palembang. Disini serba manis, padahal makanan di palembang kayo raso akan rempah-rempah.... pindang... demi apopun aku kangen makan pindang T.T

Tapi jogja samo bae panasnyo cak palembang. Iyo, panas bedengkang yang kato kito tu rasonyo cak neraka bocor yeeee. Tapi sekarang lagi musim ujan, di Palembang jugo kan? Ah, apo kabar palembang di musim ujan? Sekip pasti lagi banjir ye hehe, sungai musi meluap dak? Dulu men sekolah inget nian, men ado kawan-kawan yang dak masuk sekolah pasti diomongke budak sekip wkwkwwk.

La tigo bulan di jogja, kosakata bahaso jawo rasonyo dak nambah-nambah. Padahal target lulus kuliah pengen pacak lancar ngomong bahaso jawo. Bahasonyo saro sih, madak ngomong bae pake ado tingkatan yang alus samo kasar. Ribet kan? Men salah ngomong pacak panjang urusannyo...

Aku ngeraso uong Palembang selalu krisis identitas men ditanyo suku apo. Kito bukan cak padang yang suku minang, atau medan yang suku batak... aku dewek daktau kito suku apo. Untunglah aku ketemu jawabannyo, ternyato aku ini sebagai uong palembang asli itu campuran suku melayu dengen ado keturunan cinonyo dikit. Daktau jugo, tapi itulah ngapo uong palembang putih-putih. Meski sebenernyo aku lebih sering dikiro uong sunda. Biasonyo aku langsuuuung bilang, "Enggaaaaaaak.... aku orang Palembang". Daktau rasonyo sedih cakitu, dak dikenali identitasnyo.

Aku ngeraso tulisan ini aneh. Kamu cakmanolah yang baconyo? Iyo aneh... yosudah men dak setuju dak usah dibaco, tapi aku masih nak cerito disini. Hmm apo yeee? Ohiyo, dak di palembang, dak di jogja uong-uong masih bae bilang aku cak budak kecik.. padahal aku kan sudah berusaha bersikap dewasa sebagaimana mestinyo. Tapi aku sering bae buat uong ketawo dan mereka ngomong, "Ya Allah polos nian gioooo". Tapi aku baru sadar sih, ternyata aku memang terlalu polos, madak aku dak tau apo itu Pasar Kembang. Aku kiro itu namo daerah, pasar tempat uong jualan kembang.... dan setelah aku tau apo itu.... AAAAAAAAA AKU SHOCK!! Pantes bae aku diketawoi kawan-kawan pas ngajak mereka ke sarkem buat beli kembang :((

Terus cerito apolagi yeee? Ohh iyoo, aku seneng disini ketemu juga kawan-kawan baru. Aku lanjut ngelingker lagi, dan itu yang terpenting... Alhamdulillah Allah mudahke dan kumpulke dengan lingkungan baik, padahal kan ye disini tu heterogen nian. Yang pake cadar tu biaso, kawan sekelass aku bae ado. Cewek merokok pun ado, sekelas pulok samo akuu. Pokoknyo rasonyo men kamu kesini kamu akan sadar bahwa segalo jenis manusio ado galo disini.

Oh iyo, terus aku ngeraso cak norak nian di jogja nih. Biasolah di tempat kito kan katek gunung samo laut, cuma ado sungai bae.. kalo ke pantai kito harus ke lampung dulu atau ke bangka atau ke bengkulu.. tapi disini aku berapo kali sudah diajak ke pantai rame-rame samo keluarga muslim psikologi :3 ke gunung jugo, meski baru ngelanggeran tapi exciited, maklumlah uong Palembnag xD

Ahh, aku mulai capek. Maghrib ini nak pegi ke fakultas pulok, dem dulu yeee. Maaf tulisannyo jelek :))


(Jembatan Ampera dan Sungai Musi di waktu malam)


- Giovanny Putri Andini
Yogyakarta, 11 November 2014