Kamis, 12 Mei 2016

....

Mempelajari ilmu Psikologi ternyata tak membuat kita cukup untuk serta merta bisa saling memahami. Mengikuti "pengajian rutin" di tempat masing-masing sampai aktif di lembaga dakwah, ternyata tak bisa membuat kita bisa menjaga agar "jalinan ukhuwah" itu tetap baik. Sabar, tabayyun, saling memaafkan, lapang, legowo apapun itu seolah cuma sekedar istilah-istilah yang nyatanya tak sanggup kita implementasikan. Lucu. Seperti lupa umur, kita bertengkar karena hal kecil, marah untuk hal yang sepele.


Bukan. Ini bukan salah kalian, ini salahku. Bukan separuh. Tapi utuh. Do'akan aku, selalu, agar aku bisa terus menjadi lebih baik lagi.

Untuk Sahabat sampai surga KMP,
 Maukah kalian tetap berjalan bersamaku?
karena memilih berhenti bukanlah akhir dari tujuan kita.


Ruang Kuliah K-205 Psikologi UGM, 13 Mei 2016
(c) Giovanny Putri Andini

Selasa, 16 Februari 2016

Menjadi Akar

Aku ingin menjadi akar saja.


... yang bekerja di bawah tanah. Bekerja dalam diam, dalam sunyi, tak dikenal. 
Meski buah yang dicintai banyak orang sebab manisnya, meski rimbun daun yang dipuji banyak orang karena teduhnya, meski kokoh batang yang disukai sebab kuatnya.

Meski mereka lupa, akar yang menyerap air untuk pohon, juga yang mencengkram tanah dengan kuat agar pohon tak tumbang diterpa angin.





Tak apa. Penilaian orang tak penting. Aku cukup menjadi akar saja.


Yogyakarta, 17 Februari 2015.
(c) Giovanny Putri Andini
0:24 am

Rabu, 13 Januari 2016

Kepulangan



Beberapa waktu yang lalu, aku tidak mau pulang. Bukan, bukan tidak rindu. Tapi itu lebih dikarenakan aku merasa urusanku di Jogja masih banyak yang harus dibereskan, terlebih aku takut bahwa kepulanganku hanya akan membuat waktuku menjadi tidak produktif. Benar. Sebuah ketakutan yang egois.

***

Sebulan yang lalu aku mengobrol dengan adik perempuanku yang nomor dua, yang jarak kelahirannya tidak sampai satu tahun di bawahku, yang pikirannya jauh lebih dewasa dariku, yang untuk beberapa hal lebih pantas disebut kakak dari pada aku.
"Kakak mau pulang cuma seminggu?" kira-kira itu pertanyaannya diikuti nada kesal dari ujung telpon.
"Cuma dapet izin dari asrama segitu, mau gimana lagi?"
Lalu aku mendapat omelan panjang pendek dari adikku, dia mulai berbicara tentang kalkulasi pengeluaran biaya yang akan keluar untuk ongkosku dan estimasi waktu yang akan aku habiskan di rumah nanti. Agak kesal mendengar adikku berbicara tentang uang, sedang Papa sendiri tidak pernah meributkannya, kami mengakhiri pembicaraan kami dengan akhir yang buruk. Biasa sebenarnya, kami memang bukan tipikal kakak adik yang romantis dan memang lebih sering bertengkar.

Tapi dari obrolan itu aku banyak merenung. Orang tuaku memang tidak pernah meributkan "mahalnya" ongkos pulang, tapi aku agaknya merasa sayang juga, sebab ongkos bolak-balik pesawat Yogyakarta - Palembang itu bahkan lebih mahal dari SPP tahunan asrama saya. Dan, Papa tidak pernah sekalipun berpikir bahwa putri sulungnya cukup dewasa untuk dibiarkan naik bus sendirian berhari-hari untuk pulang. Bahkan semester kemarin, ketika aku ingin pulang bersama teman-temanku yang juga ingin naik bus, tetap saja tidak diizinkan.

Setidaknya kesibukan di asrama untuk mengikuti dauroh fiqih selama 10 hari, -dengan tugas-tugas bacaan yang banyak dan harus dibaca dan kelas-kelas yang tak bisa ditinggal- mulai menghapus rasa sedih dan bersalahku yang tidak bisa pulang. Toh, ini jihad, hiburku kepada diri sendiri. Kecintaan terhadap ilmu, yang kemudian membuatku harus mengorbankan waktu libur dan istirahatku semoga bisa berbuah surga. Dan segala macam pembenaran yang aku buat-buat sendiri untuk menghibur diriku.

***  
Dan kemudian waktu berlalu, aku lupa dengan keinginan untuk pulang sampai berita tentang orang hilang yang ikut aliran sesat gafatar sampai kepadaku. Tiba-tiba aku  langsung ingat orang tuaku di rumah. Mereka pasti cemas dan khawatir, apalagi kejadian orang hilang itu di Jogja. Meski mereka tak akan serta merta (lagi) langsung menuduh dan lebih hati-hati mencurigaiku karena aku  terlalu sering terisak dan terluka acapkali orang tuaku mulai menuduhku mengikuti aliran sesat atau ekstrimis.

Bebarengan dengan itu, tiba-tiba aku segera mendapatkan SMS dari akademik melalui SIT (Sistem Informasi Terintegrasi) Fakultas yang menginfokan, kuliah yang harusnya tanggal 1 Februari mundur menjadi 9 Februari. Aku mulai merasa saya bisa pulang, aku lalu segera melihat-lihat harga tiket kereta dan pesawat. Biar lebih hemat, mungkin aku bisa coba naik kereta ke jakarta dan dari Soeta bisa naik pesawat ke Palembang. Aku malah segera ke lempuyangan, membeli tiket ekonomi (sampai ingin berhematnya) ke Jakarta. Dengan kenekatanku dan tanpa meminta izin dulu sama ummi maupun musyrifah asrama.

Kemarin malam aku menelpon mama, benar saja aku segera dikejar pertanyaan tentang Gafatar dan setelah aku jelaskan pelan-pelan, baru kemudian aku ceritakan niat untuk pulang dan jalur transport yang aku pilih. Aku mendengar nada bahagia (yang kemudian membuatku aru), dan mama segera menyuruhku untuk langsung berbiacara dengan papa tentang rencana kepulangan.

Dari ujung telpon terdengar Papa tampak kaget  tapi  aku  lebih kaget lagi ketika mendengar jawaban dari ayah saya, "Udah sebut aja, mau pulang tanggal berapa dan balik ke jogja tanggal berapa, nanti langsung Papa cariin tiket pesawat," katanya dengan nada kaku seperti biasa. "Eh? Tapi kakak sudah beli tiket kereta ke jakarta. Cuma 82.500 sih, naik progo" aku menjawab cepat dengan agak terpana. "Heeh, bahayalah anak gadis naik kereta api sendiri, udah naik pesawat aja". Aku kemudian hanya bisa menurut, dan kurang dari satu jam aku sudah dikirimkan kode booking pesawat oleh laki-laki paling tampan sedunia itu. Akhirnya dengan perasaan ketar-ketir, karena belum mendapatkan izin dari musyrifah asrama, aku akan pulang.

***

Tepat tadi siang, aku kembali membuka sebuah grup yang tiba-tiba rame ketika ada yang nanya 'sudah pada pulang?'. Iseng kemudian aku menceritakan sedikit kronologis dan kepulangan yang tidak disengaja akan terjadi. Semua berjalan biasa, sampai ada orang -yang biasanya selalu ngeselin dimanapun haha- tiba-tibu muncul dan ikut komentar 'Pulanglah. Pulang aja, selagi ada kesempatan pulang'. Dan aku terdiam cukup lama.

Sederhana sih sebenernya, dia juga ngetik itu asal ngetik tanpa pemikiran yang panjang atau niat untuk membuatku terkesan. Tapi kata di ujung kalimatnya benar-benar menyadarkanku. Pulang aja, selagi ada kesempatan. Kesempatan. Iya, kesempatan. Karena tidak semua orang punya kesempatan pulang. Aku jadi teringat seorang teman dari fakultas geografi yang rumahnya di NTT, sudah dari tahun lalu dia belum bisa pulang, bahkan ketika idul fitri kemarin. Sejak kepergiannya ke Jogja untuk kuliah, sampai hari ini dia juga belum bisa pulang. Kubaca lagi kalimat sederhana itu, dan air mataku menetes.

Aku sering lupa, bahwa harusnya aku bersyukur. Dengan segala nikmat yang diberikan oleh Allah, kalau libur mau pulang, ya orang tuaku bisa dengan mudah langsung bilang iya, dan aku bisa pulang. Jadi semacam teringat sebuah pepatah yang cukup terkenal; we busy growing old, and forget our parent getting old. Kenapa aku sempat sebodoh itu ya? Siapa yang menjamin dengan umur, apakah benar aku bisa bertemu dengan kedua orang tuaku lengkap di semester depan? Siapa yang menjamin rezeki, apakah iya semester depan orang tuaku masih punya cukup uang untuk membiayai transport kepulanganku?

Dan lagi, sebagaimana seorang anak perempuan harusnya aku juga mikir. Bahwa nanti ketika aku sudah menikah, aku akan sepenuhnya menjadi istri dari suamiku. Lalu siapa yang bisa menjamin, jika nanti ternyata takdirnya aku menikah dengan seseorang yang tidak tinggal di kampung halamanku? Maka harusnya, sebagai seorang yang statusnya masih dalam tanggungan orang tua, aku harus lebih banyak berbakti total kepada mereka, membahagiakan mereka.

Mengutip dari buku yang ditulis Moh Fauzil adhim, ternyata menyenangkan orang tua -khususnya ibu- lebih diutamakan dari berjihad untuk menegakkan agama Allah. Dalam hadits dituturkan seperti ini:
Dari Abdullah bin Umar, seorang laki-laki mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam kemudian berkata kepada beliau, "Saat aku berbaiat kepadamu untuk hijrah, aku tinggalkan kedua orangtuaku dalam keadaan menangis."
Rasulullahi 'alaihi wa sallam berkata," kembalilah kepada kedua orang tuamu dan perlakukanlah mereka berdua hingga tertawa gembira sebagaimana engkau telah tinggalkan dalam keadaan menangis." (HR. An-Nasa'i)
Dan tekadku semakin bulat, aku akan pulang!


16.07 PM
Yogyakarta, 13 Januari 2016
(c) Giovanny Putri Andini

Sabtu, 21 November 2015

Ujian


Pelaut tangguh hanya dihasilkan dari badai ombak yang besar. Malam paling gelap selalu mempunyai bintang dengan sinar paling terang. Kita bisa menganalogikan sesuatu dengan aksara yang paling indah. Kita bisa merangkai kalimat-kalimat indah pemberi semangat atau mungkin juga motivator paling bijak untuk orang lain. Kenyataanya, kita selalu kepayahan untuk menghibur diri sendiri. Sikat memang bisa membersihkan banyak hal, tapi ketika kotor, dia tidak bisa membersihkan dirinya sendirinya.

Kalau hidup haruslah menaiki tangga untuk mencapai puncak tertinggi, maka kita harus siap dengan segala akselarasi yang mungkin akan kita temukan di perjalanan agar kita segera sampai ke tujuan. Mungkin memang tiba saatnya kita mendapat kesempatan untuk menaiki lift, tapi ini menjadi istimewa ketika ternyata kita harus berada dalam lift sendirian dengan ribuan ular di dalam sana. Lagi-lagi, kemampuan survival kita diuji. Pilihannya cuma dua, berjuang dan bertahan atau menjadi lemah lalu mati di tengah jalan. Sebab di dalam lift gelap, kita tidak bisa menemukan jalan untuk kabur dan keluar.

Tapi manusia memang paling pintar mendramatisasi seusuatu. Membesar-besarkan hal kecil. Untuk sesuatu yang bukan apa-apa, kita bisa menangis di pojokan merasa kitalah yang memiliki kisah paling pilu dan sedih sedunia. Untuk apa-apa yang hilang, kita mampu meratapi sepanjangan dan merasa bahwa kitalah manusia yang paling menderita. Kita memang makhluk paling lucu. Mengutip kalimat Yassir Muchtar; jangan-jangan kita sering salah bangga. Merasa telah berjuang menghadapi ujian yang berat, padahal sesungguhnya kita hanya  berurusan dengan masalah yang tercipta akibat kebodohan kita sendiri. Jangan-jangan, selama ini, kita belum pernah bertemu ujian yang sesungguhnya, karena kita belum keluar-keluar dari kebodohan kita sendiri. Atau, justru kita telah bertemu dengan ujian yang sesungguhnya? Ujian paling berat dari segala ujian? Ya, ujian melawan kebodohan kita sendiri.

Maka jiwa-jiwa yang merasa lelah, bangunlah! Kelelahanmu tak sebanding apa-apa, dengan kelelahan yang dirasakan para mujahid yang memperjuangkan kalimat tauhid dengan penuh darah. Maka jiwa-jiwa yang terbuai dalam lalai, sadarlah! Kau tidak punya pilihan selain bergerak atau tergantikan.

Atau setidak-tidaknya, janganlah lelahmu membuat orang lain lelah. Janganlah kelalaianmu, melalaikan orang lain. Janganlah kesusahanmu, ikut menyusahkan orang lain. Membangun peradaban adalah sebuah kerja besar. Mundurlah, yang ingin mundur. Gugurlah, yang ingin gugur. Sebab dari dulu sejarah selalu mengabadikan, bahwa orang-orang berjiwa lemah memang hanya menjadi penghambat di jalan dakwah.

Yogyakarta, 22 November 2015.
Giovanny Putri Andini.