Sabtu, 05 April 2014

Sepotong Kata Maaf

Teruntuk teman-teman angkatan 2014,

Ma'af, ini bukan prolog atau kalimat pembuka yang panjang dan bagus. Otakku sudah penuh dengan pikiran-pikiran yang membuatku pusing. Hatiku apalagi, remuk entah sejak kapan bersama sedih yang menggumpal di dalam dada.

Aku menulis ini, bukan karena sedang bercanda. Aku hanya merasa tadi apa yang aku sampaikan kepada kalian semua belum benar-benar selesai. Haha, lucu sekali, bagaimana aku yang mempunyai track record mewakili sekolah kita ke lomba debat tingkat nasional sampai dua kali, terbata menjelasakan tentang prinsip yang aku pegang. Aneh sekali, bagaimana aku yang begitu pandai dan runut memaparkan presentasi di hadapan guru, malah patah-patah menyampaikan sesuatu yang aku anggap benar. Kalian ingin tertawa? Tertawa saja, aku memang pantas ditertawakan.

Sejujurnya aku masih kesal dengan diriku sendiri. Kesal dengan ketakutan-ketakutan yang aku rasakan saat berbicara di aula tadi, di depan kalian. Lebih-lebih, dengan air mata yang dengan bodohnya tak dapat aku bendung. Aku merasa malu, kalian bisa melihat betapa lucunya Giovanny saat menangis; bagaimana wajahnya berubah menjadi merah, bagaimana dia menggigit bibir, lalu terisak mengusap air mata dengan lengan baju sedang tangan kirinya meremas tisu. Betapa memalukan, betapa menyedihkan.

Tenang, aku tidak akan membahas permasalahan kita tadi. Masalahnya sudah selesai, bukan? Kita masih bisa tetap berteman dan bertahan dengan jalan yang kita pilih masing-masing, bukan? Maka, tenang saja, aku tidak ingin membahas masalah tadi. Aku hanya ingin memastikan, bahwa usai dari diskusi terbuka di aula tadi, benar-benar tidak ada dendam yang tersisa di antara kita semua.

Aku memang penakut. Aku takut dibenci kalian. Aku takut dengan cemooh kalian. Aku takut meninggalkan kenangan yang buruk di saat detik-detik kita akan segera berpisah. Maka badanku bergetar, lidahku kelu, bicaraku gagu. Kalau tidak ingat Allah, mungkin sejak awal aku tidak sok berani menangkat tangan dan maju ke depan. Kalau tidak ingat Allah, mungkin bisa saja aku tetap duduk meringkuk di tempatku dengan manis tanpa perlu merasa repot-repot untuk peduli. Aku memang penakut, dan ternyata di atas segalanya, aku lebih takut kepada Allah. Aku memang takut kehilangan teman, tapi ternyata aku jauh lebih takut kehilangan Allah.

Maka sungguh, aku tidak bermaksud membela diri. Aku tidak memaksa kalian untuk bisa menerima dan memahamiku. Aku hanya takut beberapa di antara kalian, mungkin malah merasa benci den geram sekali melihat tingkahku tadi. Maka sungguh, melalui pengakuan ini, aku benar-benar ingin meminta maaf yang amat banyak jika kalian merasa tidak berkenan dengan apa yang aku sampaikan. Aku benar-benar meminta maaf, jika apa yang telah aku lakukan tadi secara tidak sengaja telah menyinggung dan menyakiti kalian. Demi Dzat Yang Maha Mengetahu Segala Isi Hati, aku tidak mempunyai maksud buruk kepada kalian. Aku hanya ingin menjalankankan kewajibanku untuk mengingatkan.

Lagi-lagi, aku menulis ini bukan karena merasa suci. Aku katakan saja, mungkin kalian malah jauh lebih baik dari pada aku. Aku sama seperti kalian, masih sama-sama butuh dan harus terus belajar agar bisa menjadi lebih baik. Aku lebih sering lupa dibandingkan ingat, aku juga masih sering melakukan kelalaian-kelalaian yang ada. Jadi jika kalian melihatku melakukan kesalahan atau malah lupa dengan apa yang pernah aku sampaikan, teriaki saja biar aku sadar, biar aku malu, biar aku menyesal.

Sekali lagi, semoga kita semua cukup dewasa untuk menghargai perbedaan. Semoga pemahaman yang baik selalu diberikan-Nya untuk kita. Semoga kita semua semakin dicintai Allah. Aku sayang kalian! :')

- Giovanny Putri Andini.
Palembang, 5 April 2014
9:36 PM

Sabtu, 22 Maret 2014

Sabtu

Hari itu Sabtu. Aku lupa tanggal berapa, yang aku ingat itu hanya hari Sabtu. Untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki ke SMAN 6 Palembang untuk mendaftar, bersama dengan teman-teman sekelas. Kesan pertama tidak ada yang menarik, aku memang sejak awal tak pernah tertarik bersekolah disini.

Hari itu Sabtu. Aku lupa tanggal berapa, yang aku ingat itu hanya hari Sabtu. Setelah menyerahkan data dan legalisir raport yang dibutuhkan saat pendaftaran, aku melihat-lihat keadaan sekitar sekolah yang serba hijau itu. Lalu untuk pertama kalinya aku melihat, tiap siswi duduk-duduk di luar kelas membentuk lingkaran dalam kelompok kecil lalu membaca Al-qur'an. Tidak ada guru. Aku mengangkat sebelah alis. Bingung. Apa yang mereka lakukan?

Hari itu Sabtu. Aku lupa tanggal berapa, yang aku ingat itu hanya hari Sabtu. Aku mencari tempat duduk untuk menunggu yang enak. Lalu aku memilih untuk duduk di teras mushollah bagian kanan. Tak lama, seorang laki-laki yang memakai seragam sekolah itu, menegurku pelan "Ma'af dek, itu tempat ikhwan." Aku hanya bengong tanpa menanggapi. Bingung dan terus bertanya-tanya dalam hati. Siapa itu Ikhwan? Orang itu lalu mencoba mengulang kalimat yang sama, lantas dengan lugunya aku menjawab, "Oh, ma'af kak.. tolong kasih tau aja sama kak ikhwan, aku numpang duduk sebentar di tempatnya."

Hari itu Sabtu. Aku lupa tanggal berapa, yang aku ingat itu hanya hari Sabtu. Orang itu tertawa mendengar jawabanku ketika dia menyuruh pindah tempat duduk. Lalu dia menjelaskan, apa itu ikhwan dan apa itu akhwat. Aku ingat bagaimana aku segera berdiri, menyadari kebodohanku cepat-cepat meninggalkannya dengan rasa malu.

:Hari itu Sabtu. Aku lupa tanggal berapa, yang aku ingat itu hanya hari Sabtu. Aku pulang ke rumah dengan banyak pertanyaan di dalam kepala. Hari itu, aku tidak tahu bahwa Allah sedang melihatku dengan tersenyum dari atas sana, menyiapkan skenario paling indah yang mungkin telah mengubah hidup dan duniaku menjadi amat terbalik.

Hari itu Sabtu. Aku lupa tanggal berapa, yang aku ingat itu hanya hari Sabtu.

- Giovanny Putri Andini, hari ini juga hari Sabtu.
 Palembang, 22 Maret 2014
10:20 PM


Selasa, 18 Maret 2014

Di Tengah Hujan

"Aku telah puluhan kali jatuh hati. Tapi lihat, dari semua jatuh itu hanya satu yg membuat aku tak mampu bangun lagi. Hanya satu yg buat aku tak mampu berkata, 'Tidak! Aku sudah lelah!' Dan hanya satu yg buat aku tetap bertahan.." Wanita itu patah-patah menjelaskan, berkali-kali mengusap wajahnya. Laki-laki itu tidak tahu bagaimana ekspresinya, karena dia sedari tadi hanya menunduk, melihat ujung-ujung sepatunya yang kotor oleh ciprat lumpur.

"Aku telah ratusan kali tersenyum. Dan yaa.. dari ratusan senyum itu hanya satu yang terasa berarti.." didekapnya badannya yang basah oleh air hujan. Kerudung panjangnya sudah sejak tadi tidak berbentuk. Suaranya semakin sulit untuk didengar, kalah oleh air hujan yang semakin menderas.


"Aku sudah ribuan kali menahan rindu. Tapi.. hanya satu rindu yg buat aku semakin bersabar dan menunggu..." akhirnya wanita itu meruntuhkan semua pertahanan yang dibangunnya dengan susah payah. Dia roboh. Air matanya tumpah di tengah hujan yang deras, dia tergugu.

"Dan kau tahu? Di setiap malam aku telah mencinta, menghamba, memuja, mengiba kepada Tuhan meminta belas kasih. Terisak seperti berkata, 'Tuhan. Tuhan. Tuhan. Tuhaaaaan.... Sabarku mana lagi yang ingin Kau uji? Kenapa tidak kau ambil saja hatiku agar tak perlu lagi aku tersiksa oleh rasa ini?' dan aku...." tangis wanita itu semakin menjadi, tak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya.

Dan laki-laki itu hanya bisa tertegun iba, membiarkan wanita itu menyeka air matanya sendiri di tengah hujan.



- Giovanny Putri Andini, potongan cerita yang belum selesai hehehe
Palembang, 19 Maret 2014
6:31 AM

Sabtu, 08 Maret 2014

Prosa Kak Azhar: Jauh

Tiada hal yang lebih manjur untuk mengobati heningnya perpisahan selain merindu dan bersabar. Tersebab kita bukan manusia mahahebat yang bisa hidup sendiri. Tersebab perpisahan selalu menyisakan rasa yang asing dalam batin kita: rasa yang menggugu dan tak biasa. Meski keterpisahan tidak melulu soal air mata. Meski keterpisahan tidak melulu soal kenelangsaan. Meski kita sepenuhnya menyadari bahwa pada hakikatnya keterpisahan hanyalah tipu daya waktu.

Kita akan mengenang saat-saat itu. Waktu kita—entah aku atau dirimu—mencari alasan-alasan kecil untuk sekedar mencipta kesempatan berjumpa. Bukan untuk menatap. Apalagi saling menyapa lalu tersipu. Karena bagiku, mengetahui bahwa kau baik-baik saja sudah lebih dari cukup. Apalagi mengetahui bahwa kita dekat: rasanya seperti menyicip secuil surga. Aku mulai berlebihan.

Kita akan mengenang saat-saat itu. Ketika aksara mampu—meski malu-malu—berbicara lebih jujur dari apapun. Dengan canda-canda ringan yang kadang jadi absurd karena kebablasan. Dengan bumbu metafora yang barangkali kita juga tak mengerti. Tapi bukankah bagi kita pengertian itu sudah ada, bahkan sebelum terucap kata?

Kenanglah saat-saat itu. Tidakkah kau merasa kita begitu dimanja takdir? Berjumpa. Tertawa. Bersedih. Lalu tanpa sadar saling merindu.

Dan kini…

Kita juga mesti menerima sebuah kenyataan yang nyata dan telah ada di hadapan: keterpisahan itu telah jadi niscaya.

~

Mempertanyakan mengapa harus ada perjumpaan bila berujung perpisahan adalah sebuah kepengecutan. Dan cinta, juga kebahagiaan yang menyertainya, bukan milik para pengecut. Ia adalah hadiah untuk orang-orang yang berani. Berani berjuang. Berani berdoa. Dan tentu berani menanti tanpa harus merasa tersakiti. Karena kimia jiwa ini butuh waktu untuk bisa bereaksi.

Surga itu ada di bawah naungan pedang“. Tiada kebahagiaan tanpa keberanian. Dan keberanian cuma dipunya sebagian orang.

Aku, dirimu, termasuk sebagian yang mana?

Demi detik-detik kehidupan yang habis untuk memikirkanmu. Bila kita merasa takdir tak lagi memanjakan kita. Bila keterpisahan ini bukan lagi tipu daya. Buatku, rasa itu akan tetap ada. Membersamai tiap-tiap cita yang coba dicipta tanpa harus lupa: doa punya daya untuk menganulir takdir.

Dirimu. Semoga. Selalu. Detik ini dan selamanya. Jadi bintang yang menggantung di langit rindu.

- ditulis oleh Kak Azhar Nurun Ala pada tanggal 9 Januari 2013
dan hari ini 9 Maret 2014 adalah resepsi pernikahannya bersama kak Vidya Nuarisita (wanita yang dicintainya bukan hanya dalam diam, tapi juga dalam doa), yang menginspirasi kak Azhar menulis buku "ja(t)uh". :')


Barakallahu laka wa barraka 'alaika wa jama'a bainakuma fii khair, Kak. Semoga bisa jadi keluarga dakwah yang bahagia di dunia maupun di akhirat. :'D

Sejak pertama kali membaca prosa-prosa kak Azhar, hati saya bergetar. Saya terus bertanya dalam hati, siapa wanita beruntung yang dimaksudkan kak Azhar dalam prosa-prosanya? Bagaimana rasanya dicintai dengan cara yang dimuliakan seperti itu? Ahh, biar waktu yang menjawab semuanya. Semoga Allah memuliakan mereka yang menjaga diri, hati dan cinta mereka.

Hai, nama saya Giovanny Putri Andini. Ketika banyak orang bangga dengan statusnya, saya juga bangga dengan prinsip dan hidayah saya. Betapa Allah begitu menjaga saya dari maksiat, betapa Allah mencintai saya dengan karunia hidayah-Nya.