Kamis, 21 Agustus 2014

Luka?

Bagaimana mungkin seseorang merasa terluka, bahkan ketika tidak dilukai? Bagaimana mungkin seseorang bisa merasa sakit, bahkan ketika tidak berdarah? Atau jangan-jangan kita yang melukai, tanpa menyadari? Siapa yang terluka, siapa yang melukai? Manusia memang sering kali terlalu bodoh dalam memahami orang lain. Manusia memang menjadi paling menyebalkan saat sudah menjadi amat sok tau.

Katanya kecerdasan manusia dibagi dalam tiga hal; intelektual, iman dan emosi. Adakah yang bisa menguasai ketiganya? Di antara semuanya, boleh aku simpulkan yang paling sulit dimiliki adalah kecerdasan emosi? Boleh aku berpendapat, mereka yang beriman pun terkadang tidak serta merta mempunyai kecerdasan dalam memahami orang lain?

Ya, sebutlah aku adalah orang paling tidak mempunyai kecerdasan emosi; kecerdasan dalam memahami orang lain. Mungkin aku sudah memberimu racun, saat kukira itu adalah segelas madu. Mungkin kukira kau akan terssenyum senang, saat kau diam-diam kesakitan dan sekarat disana. Mungkin aku sudah mencabik-cabik kepalamu dengan pisau, saat kukira aku sedang menyisir rambut panjang dan indahmu dengan lembut. Dan banyak lagi kemungkinan-kemungkinan yang bermunculan dikepalaku. Yang intinya cuma bermuara pada satu; mengapa kamu jadi begitu?

Mencoba tak terlihat, hanya membuatku akan semakin mencarimu. Jangan kira aku tak pernah peduli. Betapapun orang bilang aku adalah yang paling cuek sedunia, untukmu pengecualian. Aku juga tidak tau mengapa. Sudah kehendak Tuhan mungkin, karena aku sebenarnya juga tidak menginginkannya.

Kau benar untuk segalanya. Aku mungkin bukan teman yang baik. Aku bersandiwara untuk terlihat dewasa? Mungkin kau tidak salah, meski aku juga tidak mengetahuinya. Ketika ospek kemarin, dosen di psikologi menjelasakan; ada ruang dalam diri kita yang diketahui orang lain tanpa kita ketahui. Kau wanita paling peka yang pernah aku kenal, mungkin memang menyadarinya.

Ma'af, cuma itu yang bisa kukatakan meski tau semua tak akan selesai dengan kata maaf. Kau boleh pergi lalu membenciku. Biar jarak dan waktu yang mendewasakan kemudian menyembuhkan luka kita.


Teruntuk si cantik, yang kukira akan menjadi sahabat selamanya,
aku masih menyebut namamu dalam rabhitah ku.

- Giovanny Putri Andini
Yogyakarta, 22 Agustus 2014
4:44 AM

Sabtu, 16 Agustus 2014

Hari Kesekian

Ini hari kesekian aku terbangun di pagi hari, di kota yang tidak aku kenali. Entahlah, aku tidak mau menghitung hari lantas bersedih untuk tiap hari yang aku lewatkan tanpa keluarga.

Katanya penyakit parah yang akan menyerang anak rantau adalah rindu akut, yang gigilnya lebih parah dari demam dan sakitnya lebih menggigit dari asam lambung. Penyakit rindu setengah mati, yang membuat hasrat ingin pulang semakin menjadi. Dan sepagi ini, aku sudah tersiksa karena tercekik oleh rasa rindu sebab obrolan sekian menit bersama ayahku dari telepon. Menyedihkan, tiba-tiba.. aku ingin pulang.

Penyebabnya surat undangan dari Fakultas tentang pertemuan orang tua besok. Sebulan yang lalu, jauh-jauh hari kami sudah mengkonfirmasi kehadiran via web. Perjalanan sudah direncanakan. Tapi manusia ternyata memang hanya bisa berencana. Orang tuaku tidak bisa datang ke pertemuan tersebut dan hanya ibu yang ternyata bisa mengantar dan menemaniku beberapa hari di kota pelajar ini.

Pagi tadi laki-laki yang kupanggil Papa tadi menelponku. Memastikan keadaanku baik-baik saja, memastikan perihal kehadirannya yang sudah dibatalkan itu. Itu hanya percakapan tujuh menit, tidak ada yang aneh dari sana. Tidak ada ucapan; aku rindu, aku ingin pulang, atau keluhan lainnya - kendati betapa kalimat itu sangat ingin aku keluarkan. Ketimbang memilih berlama-lama dalam obrolan, aku malah cepat-cepat ingin mengakhiri beralasan ingin segera melanjutkan tugas ospek. Karena aku tau, semakin lama aku membuang tiap menit dengan mendengar suara Papa di ujung telpon, itu malah semakin membuatku merindukannya dan semakin sedih.

Ah tapi lucunya, kesendirian malah membuatku bersyukur dengan banyaknya tugas ospek yang rasanya tak sudah-sudah. Setidaknya dalam kesenderian aku bisa mengerjakan tugas sampai kelelahan hingga aku tak punya waktu untuk sekedar merasa rindu dan kesedihanku itu sendiri sedikit terlupakan. Kesibukan memang adalah obat paling mujarab bagi mereka yang didera rindu.

Ya, meski memang sehebat apapun kegiatanku, tetap saja tidak ada yang tahu betapa sepinya hatiku. Hmm..



Yogyakarta, 17 Agustus 2014.
Dirgahayu indonesia pertama bukan di rumah.

Selasa, 29 Juli 2014

Bodoh

Memendam perasaan adalah pekerjaan paling bodoh.

Kita mencintainya diam-diam, malam-malam memikirkannya, tidak pernah bosan mencari tahu semua tentang dirinya, lantas tersiksa oleh rasa rindu kepadanya.

Kita memperhatikan dia dari jauh, tertarik setiap kali mendengar orang lain menyebut namanya, menyimak dengan seksama semua kata-kata yang dilontarkan atau membaca dengan teliti semua kalimat yang dituliskannya, mendoakan segala kebaikan untuknya di dalam sujud panjang kita, lalu tersenyum getir saat tiba-tiba menyadari bahwa tidak mungkin dia melakukan hal yang sama kepada kita.

Dan lucunya lagi, kita semua pernah sebodoh itu dan mungkin tidak pernah sadar saat melakukan hal bodoh itu.

(c) Giovanny Putri Andini, #BukanGalau #CumaPengenNulisIni
Palembang, 30 Juli 2014
2:11 AM


Minggu, 20 Juli 2014

Ramadhan #23 : I'tikaf Wanita

Sebagian wanita yang bersemangat dalam beribadah -semoga Allah menjaga mereka- terkadang sedih saat tak bisa turut beri’tikaf bersama kaum pria.

Namun ketahuilah…

Keberadaan para wanita di rumah-rumah mereka tetap lebih baik. Bahkan dalam perkara shalat yang merupakan ibadah wajib harian, apalagi i’tikaf.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ummu Humaid radhiyyallahu ‘anha,
وَصَلاَتُكِ فِى دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ وَصَلاَتُكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِى
”(ketahuilah) shalatmu di rumahmu lebih baik dari shalatmu di masjid kaummu.
Dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik daripada shalatmu di masjidku (Masjid Nabawi)…”
(Hasan, HR Ahmad: 27135)

Bisakah kita bayangkan apabila anak-anak kecil turut serta berdiam diri di masjid, sebab para ibu mereka juga i’tikaf di masjid…? Mereka akan berlarian dan bermain. Maka akan hilanglah kekhusuyu’an, yang justru merupakan ruh ibadah.

Sebab itu…
Sumbangsih kaum wanita di rumah-rumah mereka, (semoga) senilai dengan para lelaki yang i’tikaf di masjid.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى
“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan ketakwaan…” (QS al-Maiidah: 2)

Dan keutamaan lailatul Qadr bukan hanya diperoleh bagi yang i’tikaf semata. Juwaibir berkata bahwa dia pernah bertanya pada adh-Dhahak rahimahullahu ta’ala, “Bagaimana pendapatmu tentang wanita nifas, haid, musafir, dan orang yang tertidur. Apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari Lailatul Qadar…?”
Adh-Dhahak pun menjawab, “Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian. Setiap orang yang Allah terima amalannya akan mendapatkan bagian keutamaan lailatul Qadar…” (Lathaiful Ma’arif: 341)

Yuks tetap semangat meraih kemuliaan lailatul Qadr di malam ganjil…
Wallahu'alam. Sumber : @sahabatilmu

***

Ini tahun kedua, tidak ikut i'tikaf bersama teman-teman melingkar. Sedih sekali, padahal tahun depan belum tentu bisa lengkap karena murrobi kami bulan depan akan pindah ke luar kota. Huft, memang sulit jika mempunyai orang tua yang masih mikirnya aneh-aneh, kalo denger anak perempuan bermalam di masjid. Dijelaskan berulang-ulangpun, percuma.. :(

Tapi harus tetap semangat mengejar Lailatul Qadr, kendati tidak bisa ikut i'tikaf di masjid. Lagian, semua itu tergantung niat, kan? Siang hari, duduk sebentar di masjid dan membaca Al-qur'an di niatkan untuk i'tikaf juga insya Allah menjadi i'tikaf (Walau tentu beda rasanya sama i'tikaf yang malam-malam).

Ya, jangan sampai kesedihan karena tidak bisa ikut i'tikaf jadi melalaikan saya memaksimalkan ibadah untuk mendapatkan Lailatul Qadr. Pokoknya tetap semangat. Luruskan niat, bersihkan hati, perbaiki diri. Tetap semangaat! Nanti, cari suami yang ngajak i'tikaf bareng, ya giooo(?) #ehh :p

Semoga kita semua bisa memaksimalkan ibadah di minggu terakhir bulan Ramadhan ini, mendapatkan kemulian malam Lailatul Qadr, dipertemukan kembali di Ramadhan tahun depan. Ma'af kalo tulisan-tulisan saya, banyak ngaconya wkwk. Semoga masih ada manfaat yang bisa diambil :')

(C) Giovanny Putri Andini
23 Ramadhan 1435 H