Minggu, 20 Juli 2014

Ramadhan #23 : I'tikaf Wanita

Sebagian wanita yang bersemangat dalam beribadah -semoga Allah menjaga mereka- terkadang sedih saat tak bisa turut beri’tikaf bersama kaum pria.

Namun ketahuilah…

Keberadaan para wanita di rumah-rumah mereka tetap lebih baik. Bahkan dalam perkara shalat yang merupakan ibadah wajib harian, apalagi i’tikaf.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ummu Humaid radhiyyallahu ‘anha,
وَصَلاَتُكِ فِى دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ وَصَلاَتُكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِى
”(ketahuilah) shalatmu di rumahmu lebih baik dari shalatmu di masjid kaummu.
Dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik daripada shalatmu di masjidku (Masjid Nabawi)…”
(Hasan, HR Ahmad: 27135)

Bisakah kita bayangkan apabila anak-anak kecil turut serta berdiam diri di masjid, sebab para ibu mereka juga i’tikaf di masjid…? Mereka akan berlarian dan bermain. Maka akan hilanglah kekhusuyu’an, yang justru merupakan ruh ibadah.

Sebab itu…
Sumbangsih kaum wanita di rumah-rumah mereka, (semoga) senilai dengan para lelaki yang i’tikaf di masjid.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى
“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan ketakwaan…” (QS al-Maiidah: 2)

Dan keutamaan lailatul Qadr bukan hanya diperoleh bagi yang i’tikaf semata. Juwaibir berkata bahwa dia pernah bertanya pada adh-Dhahak rahimahullahu ta’ala, “Bagaimana pendapatmu tentang wanita nifas, haid, musafir, dan orang yang tertidur. Apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari Lailatul Qadar…?”
Adh-Dhahak pun menjawab, “Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian. Setiap orang yang Allah terima amalannya akan mendapatkan bagian keutamaan lailatul Qadar…” (Lathaiful Ma’arif: 341)

Yuks tetap semangat meraih kemuliaan lailatul Qadr di malam ganjil…
Wallahu'alam. Sumber : @sahabatilmu

***

Ini tahun kedua, tidak ikut i'tikaf bersama teman-teman melingkar. Sedih sekali, padahal tahun depan belum tentu bisa lengkap karena murrobi kami bulan depan akan pindah ke luar kota. Huft, memang sulit jika mempunyai orang tua yang masih mikirnya aneh-aneh, kalo denger anak perempuan bermalam di masjid. Dijelaskan berulang-ulangpun, percuma.. :(

Tapi harus tetap semangat mengejar Lailatul Qadr, kendati tidak bisa ikut i'tikaf di masjid. Lagian, semua itu tergantung niat, kan? Siang hari, duduk sebentar di masjid dan membaca Al-qur'an di niatkan untuk i'tikaf juga insya Allah menjadi i'tikaf (Walau tentu beda rasanya sama i'tikaf yang malam-malam).

Ya, jangan sampai kesedihan karena tidak bisa ikut i'tikaf jadi melalaikan saya memaksimalkan ibadah untuk mendapatkan Lailatul Qadr. Pokoknya tetap semangat. Luruskan niat, bersihkan hati, perbaiki diri. Tetap semangaat! Nanti, cari suami yang ngajak i'tikaf bareng, ya giooo(?) #ehh :p

Semoga kita semua bisa memaksimalkan ibadah di minggu terakhir bulan Ramadhan ini, mendapatkan kemulian malam Lailatul Qadr, dipertemukan kembali di Ramadhan tahun depan. Ma'af kalo tulisan-tulisan saya, banyak ngaconya wkwk. Semoga masih ada manfaat yang bisa diambil :')

(C) Giovanny Putri Andini
23 Ramadhan 1435 H

Kamis, 17 Juli 2014

Ramadhan #19 : yang lebih pantas dikhawatirkan

Jangan bersedih, ukhti.
Allah tengah menguji mereka, dan kita akan mengambil pelajarannya.
Tangisi diri sendiri, bisa jadi kita setelah ini...
Jangan terpaku kepada mereka, takutilah dirimu sendiri.

Apa yang telah kita alami kini, bukanlah sesuatu yang baru, bukanlah sesuatu yang asing, bukan pula yang jarang terjadi. Kemunduran jama'ah adalah kepastian yang akan ditemui. Kepastian yang menyedihkan memang. Tapi, inilah dakwah. Terkadang merobek jiwa, meruntuhkan kepercayaan bahkan merusak persaudaraan. Lebih menyedihkan, penyebabnya hanya sebatas perasaan kecewa. Kecewa pada jama'ah. Merasa diri mereka berhak dikasihi dengan cara yang menyakiti.

Maka jangan kita bersedih, air mata kita tak pantas untuk menyesali penurunan mereka. Do'akan. Meski akan lama pengabulannya. Jangan kecewa pada apa yang mereka telah lakukan, tapi kecewalah bila diri merasa aman dari posisi yang mereka alami. Mungkin saja, kita target selanjutnya. Tangisi hal itu, karena yang paling membahayakan adalah diri kita sendiri. Pertanggung jawaban kita kepada Allah adalah mengenai perbuatan kita, bukan siapapun.

Kita pernah menangisi sesuatu di tengah malam, berdua dengan Tuhan, yang kita minta supaya mereka kembali membersamai ukhuwah ini? Dan air mata kita jatuh karena sesaknya mengenang kebersamaanmu pada mereka dulu, -dimana tangan kita saling merangkul seakan kita memang sahabat yang tidak akan terpisahkan. Dan kita, bukan satu-satunya yang menangisi mereka. Kita juga bukan satu-satunya yang marah pada diri kita karena tak mampu mengembalikan mereka..

Dan kita, bukan satu-satunya yang mencintai mereka, bukan pula yang paling menyayangi mereka, bukan yang paling peduli dengan mereka. Sekalipun kita tahu, bahwa mereka pantas diseru agar kembali. Tapi sekalipun kita telah meneriaki hati mereka agar bergegas memperbaiki diri, semua itu percuma. Karena hati itu milik Allah, dan tiada yang memegang kendali kecuali Dia.

Sungguh, pertanggung jawaban kita kepada Allah adalah karena kita sendiri. Jangan dilalaikan oleh perbuatan mereka, yang tidak akan merugikan kita sedikitpun. Jangan luput dari mengingat dosa kita sendiri yang lebih bahaya dari apapun. Urusan kita hanya dengan Allah, pun juga mereka.

-- cuplikan surat yang ditulis Bella untuk saya, aslinya lebih panjang lagi!! >,<
huaaaaaaah, pokoknya benar-benar semakin semangaaat untuk terus berbenah memperbaiki diri!!
sudah mulai masuk 10 terakhir Ramdhan, sekaraaang harus lebih bersemangat mengejar malam lailatul qadr :'))

20 Ramadhan 1435 H
8:39 PM





Selasa, 15 Juli 2014

Ramadhan #18 : Disatukan dan Dipisahkan

Wanita itu bertutur…

“Dahulu, kami hidup bersama-sama dalam sebaik-baik kondisi dan setenang-tenang hati sepasang suami istri yang bahagia, yang saling tolong-menolong atas ketaatan kepada Allah Ta’ala. Dalam diri kami terdapat sifat qana’ah dan ridha (puas).

Anak perempuan kami adalah lampu penerang rumah. Tawa rianya membelah bunga-bunga. Sungguh, dia adalah pohon Raihanah yang bergoyang. Jika malam telah larut dan si kecil telah lelap, aku bangkit bersama suamiku bertasbih kepada Allah.

Dia mengimamiku shalat dan membaca Al Qur’an dengan tartil. Air mata turut shalat bersama kami dengan suasana hening dan khusyu’. Seakan-akan aku mendengar air mataku berungkap, “Aku adalah keimanan fulan dan fulanah.”

Pada suatu hari, kami berniat mengembangkan uang. Aku mengusulkan kepadanya agar membeli saham ribawi untuk menambah harta lalu menabungnya untuk anak keturunan. Kami pun menaruh semua yang kami miliki ke saham tersebut.

Saham pasar kemudian ditimpa inflasi dan kami mengalami kehancuran. Nilai tukar beberapa riyal jatuh hanya menjadi satu qirsy. Kami pun menenggak rasa gelisah. Semakin banyak hutang-hutang dan tanggungan lain. Dan kami pun sadar bahwa Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.
Di suatu malam yang menyedihkan, ketika simpanan telah kosong, aku berseteru dengan suamiku. Aku meminta cerai.

Maka dia berteriak, ‘Kamu tertalak! Kamu tertalak!’.

Aku menangis, dan si kecil pun menangis. Di sela-sela air mata yang mengalir, aku masih teringat dengan baik ketika ketaatan menyatukan kami dan (akhirnya) kemaksiatan memisahkan kami..”



- Dikutip dari sebuah kisah nyata dalam buku yg ditulis oleh Abdul Muththalib Hamd Utsman, Penerbit Darul Haq, Mei 2009

18 Ramadhan 1435 H
7:31 AM

Senin, 14 Juli 2014

Ramadhan #17 : Cinta untuk Gaza

Di sebuah angkot, di tengah perjalanan. Seorang ibu muda dengan jilbab panjang yang lebar, naik mengandeng tangan anak kecil perempuan yang kira-kira berusia tiga tahun. Mereka mengambil tempat duduk di samping saya.
"Aku mau beyi makanan," kata anak kecil itu dengan suara yang lucu berkata dengan polos kepada ibunya, -tak lama setelah angkot melaju.
"Mau beli apa? Di rumah kita kan sudah ada makanan"
"Aku mau cemiyan tapi"
"Di rumah kita masih ada roti dan meses, nanti mama buatkan setelah sampai ke rumah."
"Tapi aku kan gak mau yoti, aku mau cemilan yang lain," anak kecil itu mulai merengek.
Dan saya mendengar, ibu muda itu menghela nafas. Dengan suara bergetar den berkaca-kaca dia berujar, " “Bersyukur, Nak. Kita masih punya makanan. Punya roti. Bisa puasa dan shalat dengan tenang. Orang-orang di Gaza susah cari makanan. Listrik mati, gelap-gelapan. Saat sahur, buka dan tarawih, mereka ditembaki. Rumah-rumah mereka hancur. Anak-anak sebesar kamu mati dibunuhi…”
Dan setitik air mata menetes di mata wanita yang dipanggil anaknya, mama tadi.
"Kenapa mama menangis? Memang mama kenal sama orang-orang yang ditembak itu?"
"Mama nggak kenal, Nak. Tapi sesama Muslim itu bersaudara. Seperti satu tubuh. Saat satu bagian sakit, bagian lain pun ikut sakit. Orang-orang di Gaza itu, juga adik-adikmu. Kakak-kakakmu. Anak-anak Mama dan Papa. Kita doakan ya, semoga Allah menjaga mereka, aamiin…”
 “Ya Ayoh, jagayah mereka ya, aamiin…” lalu anak kecil itu berujar lagi, “Tapi Mama janan nanis yagi ya, janan sedih yagi…”
Saya cepat membuang muka,  segera memalingkan wajah menghadap jendela. Huaaaaaah, terharu mendengar percakapan ibu dan anak ini, mata saya juga ikut basah T.T

Jadi ingat ketika aksi longmarch Peduli Palestina, mendengar cerita sepasang suami istri yang datang dengan motor bututnya memberikan beberapa lembar uang berwarna merah. Setelah memberikan, suami tersebut tersenyum ke istrinya seraya berkata, "Ikhlas ya Mi, sahur dengan mi rebus?" Dan anggukan anggun sang istri, pasti membuat semua orang yang melihat terpana. Ya Allah, itu lembaran uang terakhir mereka.... :"

Alhamdulillah semakin banyak orang-orang yang peduli dengan palestina. Untuk kita semua, jangan pernah melupakan mereka semua dalam do'a kita. Semoga Allah senantiasa menjaga mereka dengan cinta-Nya.

(c) Giovanny Putri Andini
Palembang, 17 Ramadhan 1435 H
12:30 PM